Jumat, 14 Maret 2014

Syok Dalam Kebidanan



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang
Syok obstetri adalah keadaan syok pada kasus obstetri yang kedalamannya tidak sesuai dengan perdarahan yang terjadi. Syok adalah ketidak seimbangan antara volume darah yang beredar dan ketersediaan system vascular bed sehingga menyebabkan terjadinya hipotensi, penurunan atau pengurangan perfusi jaringan organ, hipoksia, sel perubahan metabolic aerob menjadi anaerob. Dengan demikian demikian terjadi kompensasi peningkatan detak jantung akibat menurunnya tekanan darah menuju jaringan. Dampak gagalnya siklus Kreb adalah hipoksia sel yang terlalu lama yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada sistem enzim sel dan metabolism sel. Beberapa penanganan bidan dalam menghadapi syok-syok tersebut. Penanganan tersebut dapat mengurangi angka kematian ibu dan anak dalam proses persalinan.

1.2.    Tujuan
1.  Untuk mengerti dan memahami pengertian syok obstetri
2.  Untuk  memahami dan mengetahui jenis dan etiologi syok
3.  Untuk mengerti dan memahami klasifikasi syok
4.  Untuk mengerti dan memahami tanda dan gejala syok
5.  Untuk  memahami dan mengetahui penanganan syok
6.  Untuk  memahami dan mengetahui klasifikasi pendarahan
7.  Untuk  memahami dan mengetahui komplikasi syok








1.3.    Rumusan Masalah
1.        Apa yang dimaksud dengan syok obstetri
2.        Apa saja jenis dan etiologi syok
3.        Apa saja klasifikasi dari syok
4.        Apa saja tanda dan gejala syok
5.        Bagaimana cara penanganan syok
6.        Apa saja klasifikasi pendarahan
7.        Berapa fase – fase syok 
8.        Bagaimana cara pemantauan syok
9.        Apa saja komplikasi syok
10.    Bagaimana mortalitas




















BAB II
PEMBAHASAN

2.1.       Definisi
a.        Syok merupakan kegagalan sistem sirkulasi untum mempertahankan perfusi yang adekuat organ-organ vital. Syok merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa dan membutuhkan tindakan segera dan intensif (BPPPKMN, 2010).
b.        Syok adalah suatu keadaan disebabkan gangguan sirkulasi darah kedalam jaringan sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan dan tidakn mampu mengeluarkan hasil metabolisme (Sarwono, 2012).
2.1.1.           Jenis-jenis Syok
a.    Syok Hemorargik
Syok hemorargik disebabkan perdarahan yang banyak yang dapat disebabkan oleh perdarahan pada kehamilan muda, antepartum, atau pasca persalinan.
b.   Syok Endotoksik
Suatu gangguan menyeluruh pembuluh darah disebabkan oleh lepasnya toksin.
c.    Syok Kardiogenik
Syok yang terjadi karena kontraksi otot jantung yang tidak efektif, yang disebabkan oleh infark otot jantung dan kegagalan jantung.
d.   Syok Neorogenik
Syok yang terjadi karena rasa sakit yang berat.
e.    Syok Anafilaktik
Syok yang terjadi akibat hipersensitif atau alergi obat.
f.    Emboli Air Ketuban
Masuknya cairan amnion kedalam sirkulasi ibu menyebabkan kolaps pada ibu saat persalinan.

2.1.2.           Klasifikasi Perdarahan
Kelas
Jumlah Perdarahan
Gejala Klinik
I
15% (Ringan)
Tekana darah dan nadi normal
Tes Tilt (+)
II
20-25% (sedang)
Takikardi-Takipnea
Tekanan nadi < 30 mmHg
Tekanan darah sistolik rendah
Pengisian  darah kapiler lambat
III
30-35% (Berat)
Kulit dingin, berkerut, pucat
Tekanan darah sangat rendah
Gelisah
Oliguria (<30 ml/jam)
Asidosis metabolic (pH < 7.5)
IV
40-45% (sangat berat)
Hipertensi berat
Hanya nadi karotis yang teraba
Syok ireversibel


2.2.       Etiologi
Terjadinya syok dalam kebidanan yang terbanyak adalah perdarahan, kemudian neorogenik (nyeri), kardiogenik (jantung), endotoksik/septik (sepsis), anafilaktik (alergi), dan penyebab syok yang lain seperti emboli, komplikasi anastesi dan kombinasi.

2.3.       Prognosis
Jika tidak diobati, biasanya berakibat fatal. Jika diobati hasilnya tergantung kepada penyebabnya, jarak antara timbulnya syok sampai dilakukannya pengobatan serta jenis pengobatan yang diberikan. Kemungkinan terjadinya kematian pada syok karena serangan jantung atau syok septik pada penderita usia lanjut sangat tinggi.


2.4.       Patogenesis
Tubuh manusia berespon terhadap perdarahan akut dengan cara mengaktifkan 4 sistem major fisiologi tubuh: sistem hematologi, sistem kardiovaskular, sistem renal dan sistem neuroendokrin.system hematologi berespon kepada perdarahan hebat yang terjadi secara akut dengan mengaktifkan cascade pembekuan darah dan mengkonstriksikan pembuluh darah (dengan melepaskan thromboxane A2 lokal) dan membentuk sumbatan immatur pada sumber perdarahan. Pembuluh darah yang rusak akan mendedahkan lapisan kolagennya, yang secara subsekuen akan menyebabkan deposisi fibrin dan stabilisasi dari subatan yang dibentuk. Kurang lebih 24 jam diperlukan untuk pembentukan sumbatan fibrin yang sempurna dan formasi matur. Sistem kardiovaskular awalnya berespon kepada syok hipovolemik dengan meningkatkan denyut jantung, meninggikan kontraktilitas myocard, dan mengkonstriksikan pembuluh darah jantung. Respon ini timbul akibat peninggian pelepasan norepinefrin dan penurunan tonus vagus (yang diregulasikan oleh baroreseptor yang terdapat pada arkus karotid, arkus aorta, atrium kiri dan pembuluh darah paru. System kardiovaskular juga merespon dengan mendistribusikan darah ke otak, jantung, dan ginjal dan membawa darah dari kulit, otot, dan GI. System urogenital (ginjal) merespon dengan stimulasi yang meningkatkan pelepasan rennin dari apparatus justaglomerular. Dari pelepasan rennin kemudian diproses kemudian terjadi pembentukan angiotensi II yang memiliki 2 efek utama yaitu memvasokontriksikan pembuluh darah dan menstimulasi sekresi aldosterone pada kortex adrenal. Adrenal bertanggung jawab pada reabsorpsi sodium secra aktif dan konservasi air. System neuroendokrin merespon hemoragik syok dengan meningkatkan sekresi ADH. ADH dilepaskan dari hipothalmus posterior yang merespon pada penurunan tekanan darah dan penurunan pada konsentrasi sodium. ADH secara langsung meningkatkan reabsorsi air dan garam (NaCl) pada tubulus distal. Ductus colletivus dan the loop of Henle. Patofisiologi dari hipovolemik syok lebih banyak lagi dari pada yang telah disebutkan . untuk mengexplore lebih dalam mengenai patofisiology, referensi pada bibliography bisa menjadi acuan. Mekanisme yang telah dipaparkan cukup efektif untuk menjaga perfusi pada organ vital akibat kehilangan darah yang banyak. Tanpa adanya resusitasi cairan dan darah serta koreksi pada penyebab hemoragik syok, kardiak perfusi biasanya gagal dan terjadi kegagalan multiple organ.
2.4.1.           Mekanisme Terjadinya Syok
a.         Syok Hipovolemik
Terjadi karena volume cairan darah intravaskula berkurang dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat. Penyebab utama adalah perdarahan akut. 20 % volume darah total.
b.        Syok Septik
Sering terjadi pada orang dengan gangguan imunitas dan pada usia tua. Akibat dari reaksi tubuh melawan infeksi, bakteri mati dan mengeluarkan endotaksin melalui mekanisme yang belum jelas mempengaruhi metabolisme sel dan merusak sel jaringan disekitarnya. Yang dirusak ini mengeluarkan enzim usosom dan histamin. Enzim usosom masuk kedalam peredaran darah sampai ke jaringan lain dan menyebabkan kerusakan sel lebih banyak lagi serta sebagai pemicu dikeluarkan bradiknin. Bradiknin dan histamin menyebabkan vasodilasi pembluh darah tepi secara masif dan meningkatakan permebilitas kapiler.
c.       Syok Endotoksik
Mikroorganisme mengularkan endoktoksik yang dapat mengaktifkan sistem komplemen dan sitokin, mengawali reaksi imflamasi. Sepsis menyebabkan vasodilatasi, tahanan perifer pembuluh darah menurun, dan hipotensi. Selanjutnya di distribusi aliran darah kurang sehingga perfusi darah ke organ tidak adekuat menyebabkan kerusakan jaringan multi organ dan kematian. Mediator inflamasi meningkatkan permeabilitas kapilar sehingga cairan keluar dari pembuluh darah, khusus pada parenkim paru akan menyebabkan odema pulmonum. Selama sepsis produksi surfaktan pneomosit akan terganggu yang menyebabkan alveolus kolaps dan menyebabkan hipoksemia berat yang disebut Acute Respiratory Distress Syndrom (ARDS).
Endotoksik lepas karena meningkatnya permeabilitas lisosomal dan sitotoksik. Selanjutnya dalam beberapa menit dapat terjadi stimulasi medula adrenal dan saraf simpatis  serta kontriksi arteriol dan venul. Selanjutnya menyebabkan asidosis lokal yang dapat menyebabkan dilatasi arteriol, tetapi kontriksi venul dan jika berlanjut terus mengakibatkan pembendungan darah kapiler, perdarahan karena pembendungan pada gaster, hati, ginjal, dan paru.

2.5.       Diagnosis
Syok adalah kondisi kritis akibat penurunan mendadak dalam aliran darah yang melalui tubuh. Ada kegagalan sistem peredaran darah untuk mempertahankan aliran darah yang memadai sehingga pengiriman oksigen dan nutrisi ke organ vital terhambat. Kondisi ini juga mengganggu ginjal sehingga membatasi pembuangan llimbah dari tubuh (Nomenklatur Kebidanan).

2.6.       Tanda dan Gejala
a.    Nadi cepat dan lemah (110 x/menit atau lebih).
b.    Tekanan darah yang rendah (sistolik <90 mmHg).
Tanda dan gejala lain dari syok:
a.    Pucat (khususnya pada kelopak mata bagian dalam, telapak tangan, atau sekitar mulut).
b.    Keringat atau kulit terasa dingin dan lembab.
c.    Pernapasan yang cepat (30 x/menit atau lebih).
d.   Gelisah, bingung, atau hilangnya kesadaran.
e.    Urin yang sedikit (kurang dari 30 ml/jam).

2.7.       Komplikasi
Komplikasi akibat dari penanganan yang tidak adekuat dapat menyebabkan asidosis metabolik akibat metabolisme anaerob yang terjadi karena kekurangan oksigen. Hipoksia atau iskemia yang lama pada hipofise dan ginjal dapat menyebabkan nekrosis hipofise dan gagal ginjal akut. Koagulasi intravaskular yang luas disebabkan oleh lepasnya tromboplastin dari jaringan yang rusak. Kegagalan jantung akibat berkurangnya aliran darah koroner dalam fase ini kematian mengancam. Transfusi darah saja tidak adekuat lagi dan jika penyembuhan (recorvery) fase akut terjadi, sisa-sisa penyembuhan akibat nekrosis ginjal atau hipofise akan timbul.

2.8.       Penatalaksanaan
Prinsip pertama dalam penanganan kegawatdaruratan medik dalam kebidanan atau setiap kedaruratan adalah ABC yang terdiri atas menjaga fungsi saluran napas (airway), pernapasan (breathing), dan sirkulasi darah (circulation).
2.8.1.      Prinsip Dasar Penanganan Syok
1.)      Tujuan utama pengobatan syok adalah melakukan penanganan awal dan khusus untuk:
a.    Menstabilkan kondisi pasien,
b.    Memperbaiki volume cairan sirkulasi darah,
c.    Mengefisiensikan sistem sirkulasi darah.
2.)      Setelah pasien stabil tentukan penyebab syok.
2.8.2.      Penanganan Awal Syok
a.    MINTALAH BANTUAN. Segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawatdarurat.
b.   Lakukan pemeriksaan secara tepat keadaan umum ibu dan harus dipastikan bahwa jalan napas bebas.
c.    Pantau tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, dan suhu tubuh).
d.   Baringkan ibu tersebut dalam posisi miring untuk meminimalkan resiko terjadinya aspirasi jika ia muntah dan untuk memastikan jalan napasnya terbuka.
e.    Jagalah ibu tersebut tetap hangat tetapi jangan teralalu panas karena hal ini akan menambah sirkulasi perifernya dan mengurangi alliran darah ke organ vitalnya.
f.    Naikkan kaki untuk menambah jumlah darah yang kembali ke jantung.
2.8.3.      Penanganan Khusus
a.    Mulailah infus intravena (lakukan pemeriksaan secara tepat keadaan umum ibu dan harus dipastikan bahwa jalan napas bebas jika memungkinkan) dengan menggunakan kanul atau jarum terbesar). Darah diambil sebelum pemberian cairan infus untuk pemeriksaan golongan darah dan uji kecocokkan, pemeriksaan hemoglobin, dan hematokrit. Jika memungkinkan pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit, ureum, kreatinin, pH darah dan elektrolit, faal hemostatis dan uji pembekuan.
b.   Jika vena perifer tidak dapat dikanulasi lakukan venous cut-down.
c.    Pantau terus tanda-tanda vital setiap 15 menit dan darah yang hilang. Apabila kondisi pasien membaik, hati-hati agar tidak berlebihan memberi cairan. Napas pendek dan pipi bengkak merupakan tanda kemungkinan kelebihan pemberian cairan.
d.   Lakukan kateterisasi kandung kemih dan pantau cairan yang masuk dan jumlah urin yang keluar.
e.    Berikan oksigen dengan kecepatan 6–8 liter/menit dengan sungkup atau kanula hidung.
2.8.4.      Terapi obat-obatan
a.    Analgesik: morfin 10-15 mg IV jika ada rasa sakit, kerusakan jaringan atau gelisah.
b.  Kortikosteroid: hidrokortison 1 g atau deksametason 20 mg IV pelan-pelan. Cara kerjanya masih kontroversial, dapat menurunkan resistensi perifer dan meningkatkan kerja jantung vdan meningkatkan perfusi jaringan.
c.  Sodium bikarbonat: 100 mEq IV jika terdapat asidosis
d. Vasopresor: untuk menaikkan tekanan darah dan mempertahankan perfusi renal.
Dopamin: 2,5 mg/kg/menit IV sebagai pilihan utama
Beta-adrenergik stimulant: isoprenalin 1 mg dalam 500 ml glukosa 5% IV infuse pelan-pelan.
















BAB III
KESIMPULAN

Syok obstetri adalah keadaan syok pada kasus obstetri yang kedalamannya tidak sesuai dengan perdarahan yang terjadi. Klasifikasi Syok: Syok hipovolemik, syok sepsis (endatoxin shock), syok kardiogenik, dan syok neurogenik.
3.1.       Penanganan syok terbagi dua bagian yaitu:
A. Penanganan Awal
1.  Mintalah bantuan. Segera mobilisasi seluruh tenaga yang ada dan siapkan fasilitas tindakan gawat darurat.
2.  Lakukan pemeriksaan secara cepat keadaan umum ibu dan harus dipastikan bahwa jalan napas bebas.
3.  Pantau tanda-tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan dan suhu tubuh)
4.  Baringkan ibu tersebut dalam posisi miring untuk meminimalkan risiko terjadinya aspirasi jika ia muntah dan untuk memeastikan jalan napasnya terbuka.
5.  Jagalah ibu tersebut tetap hangat tetapi jangan terlalu panas karena hal ini akan menambah sirkulasi perifernya dan mengurangi aliran darah ke organ vitalnya.
6.  Naikan kaki untuk menambah jumlah darah yang kembali ke jantung (jika memungkinkan tinggikan tempat tidur pada bagian kaki).  
B. Penanganan Khusus
Mulailah infus intra vena. Darah diambil sebelum pemberian cairan infus untuk pemeriksaan golongan darah dan uji kecocockan (cross match), pemeriksaan hemoglobin, dan hematokrit. Jika memungkinkan pemeriksaan darah lengkap termasuk trombosit, ureum, kreatinin, pH darah dan elektrolit, faal hemostasis, dan uji pembekuan.




DAFTAR PUSTAKA

IBI, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono, 2010.
Ruatam, Sinopsis Obstertri Edisi 2, Jakarta: EGC, 1998.
Rukiyah, Ai Yeyeh, dkk, Asuhan Kebidanan Patologi, Jakarta: TIM, 2010.
Sarwono, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar