Kamis, 01 Mei 2014

Konsep Kebidanan



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat rahmat dan ridhonya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Konsep Kebidanan ini  yang berjudul “Managemen Kebidanan Varney.

Dalam penyusunan makalah ini, kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan kami. Namun sebagai manusia biasa, kami tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan baik dari segi teknik penilisan maupun tata bahasa. Tetapi walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin menyekesaikan karya tulis ilmiah walaupun tersusun sangat sederhana.

Kami menyadari tanpa kerja sama antara Dosen dan Penulis, serta beberapa kerabat yang memberi berbagai masukan yang bermanfaat bagi kami demi tersusunnya makalah  ini. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih kepada Dosen Pembimbing kami yaitu Bu Rangga Pusmaika, SST. dan juga kerabat yang telah memberi masukan kepada kami.

Kami menyadari bahwa karya tulis ini tidak lepas dari ketidaksempurnaan dan kesalahan. Oleh karena itu saran dan kritik dari semua pihak akan kami terima dengan lapang hati.

Dengan terselesaikannya penyusunan karya tulis ini mudah-mudahan bermanfaat, khususnya bagi pembaca.
Amin.

Tangerang, 1 Desember 2012

    Penulis

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Bidan sebagai seorang pemberi layanan kesehatan harus dapat melaksanakan pelayanan kebidanan dengan melaksanakan manajemen kebidanan yang baik dan berkualitas. Dalam hal ini bidan berperan sebagai seorang manajer yaitu mengelola dan mengatur segala sesuatu tentang kliennya sehingga tercapai tujuan yang diharapkan.
Manajemen sangat universal tetapi tidak ada kesepakatan mengenai batasannya. Banyak definisi yang dipilih sesuai dengan tujuan masing-masing. Batasan yang paling singkat mengenai manajemen adalah membuat pekerjaan selesai.

B.     Tujuan Penulisan

Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
1.      Memahami pengertian manajemen kebidanan dengan pendekatan melalui metode pemecahan masalah.
2.      Memahami prinsip manajemen kebidanan berdasarkan proses manajemen kebidanan American Collage of Nurse Midwife (ACNM).
3.      Memahami proses manajemen kebidanan sesuai langkah atau proses manajemen kebidanan yang dilakukan secara sistematis.





BAB II
ISI


A.    Manajemen Kebidanan

Bidan dalam prakteknya secara profesional, dituntut tanggungjawab manajerial yang bermutu. Untuk itu metode ilmiah akan dapat dilakukan bila telah memahami betul teknik-teknik manajemen yang adekuat. Artinya di dalam prakteknya yang penuh tanggungjawab dilakukan menggunakan teori-teori dan prinsip manajemen yang telah diakui secara nasional maupun internasional. Dengan kata lain, bidan praktek telah menggunakan manajemen kebidanan yang adekuat dalam memberikan asuhan kebidanan pada kliennya.

1.      Pengertian Manajemen Kebidanan

Manajemen kebidanan adalah suatu metode proses berpikir logis sistematis. Oleh karena itu manajemen kebidanan merupakan alur pikir bagi seorang bidan dalam memberikan arah atau kerangka dalam menangani kasus yang menjadi tanggungjawabnya.
Menurut Helen Varney, manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keterampilan dalam rangkaian atau tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada klien.
Dalam melaksanakan pelayanan kebidanan, bidan melakukan pendekatan melalui metode pemecahan masalah yang dikenal dengan manajemen kebidanan yaitu:
a.       Identifikasi dan analisis masalah yang mencakup pengumpulan data subyektif dan obyektif dan analisis data dari yang dikumpulkan atau dicatat.
b.      Perumusan (diagnosa) masalah utama, masalah yang mungkin akan timbul (potensi), serta penentuan perlunya konsultasi, kolaborasi dan rujukan.
c.       Penyusunan rencana tindakan berdasarkan hasil perumusan.
d.      Pelaksanaan tindakan kebidanan sesuai dengan kewenangan.
e.       Evaluasi hasil tindakan untuk menentukan tingkat keberhasilan tindakan.

2.      Prinsip Manajemen Kebidanan

Helen Varney (1997) menjelaskan bahwa prinsip manajemen adalah pemecahan masalah. Dalam buku teks masalah kebidanan yang ditulisnya pada tahun 1981 proses manajemen kebidanan diselesaikan melalui 5 langkah.
Setelah menggunakannya, Varney melihat ada beberapa hal penting yang disempurnakan. Misalnya seorang bidan dalam manajemen  yang dilakukannya perlu lebih kritis untuk mengantisipasi masalah atau diagnosa potensial.
Varney kemudian menyempurnakan proses manajemen kebidanan menjadi 7 langkah. Ia menambahkan langkah ke 3 agar bidan lebih kritikal mengantisipasi masalah yang kemungkinan dapat terjadi pada kliennya.
Varney menambahkan langkah ke 4 dimana bidan diharapkan dapat menggunakan kemampuannya untuk melakukan deteksi dini dalam proses manajemen sehingga bila klien membutuhkan tindakan segera atau kolaborasi, konsultasi bahkan rujukan segera dapat dilaksanakan.
Proses manajemen kebidanan ini ditulis oleh Varney berdasarkan proses manajemen kebidanan American Collage of Nurse Midwife (ACNM) yang pada dasar pemikirannya sama dengan proses manajemen menurut Varney.
Proses manajemen kebidanan sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh American Collage of Nurse Midwife (ACNM) terdiri dari:
a.       Secara sistematis mengumpulkan data dan memperbaharui data yang lengkap.
b.      Mengidentifikasi masalah dan membuat diagnosa berdasarkan interpretasi data.
c.       Mengidentifikasi kebutuhan terhadap asuhan kesehatan dalam menyelasaikan masalah dan merumuskan tujuan asuhan kesehatan bersama klien.
d.      Memberi informasi dan dukungan sehingga klien dapat membuat keputusan.
e.       Membuat rencana asuhan yang komprehensif bersama klien.
f.       Secara pribadi bertanggungjawab terhadap implementasi rencana individual.
g.      Melakukan konsultasi, perencanaan dan melaksanakan manajemen dengan kolaborasi dan rujukan untuk mendapat asuhan selanjutnya.
h.      Merencanakan manajemen terhadap komplikasi tertentu dalam situasi darurat dan bila ada penyimpangan dari keadaan normal.
i.        Melakukan evaluasi bersama klien terhadap pencapaian asuhan kesehatan.

3.      Proses Manajemen Kebidanan

Penerapan manajemen kebidanan dalam bentuk kegiatan praktek kebidanan dilakukan melalui suatu proses yang disebut langkah-langkah atau proses manajemen kebidanan.

Langkah-langkah manajemen kebidanan yaitu:
1.      Pengumpulan Data
Mengumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data klien dilakukan dengan cara:
a.       Data subyektif dengan anamnesa yaitu kegiatan wawancara antara bidan dengan klien untuk memperoleh data klien yaitu:
-          Nama                           : Bu Lika Sari
-          Umur                           : 35 Tahun
-          Alamat                        : Perumnas 2, Karawaci
-          Pekerjaan                     : Guru Matematika SD
-          Agama                         : Islam
-          Pendidikan                  : S1 Universitas Muhammadiyah Tangerang
-          Keluhan utama            : Sakit Kepala, Kaki dan Jari Tangan Bengkak
-          Riwayat Penyakit        : Hipertensi
-          Riwayat Kehamilan    : Multigravida, Matur, Viable, Partus Normal
-          Riwayat KB                : Suntik, 1 Tahun, Tidak Haid dan Sakit Kepala
-          Riwayat Perkawinan   : Suami Pertama, 12 Tahun
-          Pemenuhan Gizi          : 4 Sehat Cukup 5 Sempurna Tidak
-          Keadaan Psikologis     : Mendapat Dukungan Dari Keluarga
-          Pengetahuan                : Kurang Pengetahuan Tentang Kehamilan
b.      Data objektif
1.      Pemeriksaan fisik yaitu:
-          Palpasi (meraba)
-          Inspeksi (melihat)
-          Perkusi (mengetuk)
-          Auskultasi (mendengar)
2.      Pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu:
-          Tekanan darah
-          Suhu tubuh
-          Denyut nadi
-          Respirasi
3.      Pemeriksaan khusus
4.      Pemeriksaan penunjang

2.      Interpretasi Data Dasar
Melakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang telah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa dan masalah yang spesifik.
Diagnosa meliputi keadaan klien dan janin, masalah utama dan penyebabnya, masalah potensial dan prognosa.
Contoh diagnosa:
Ibu multigravida 1, partus 1, abortus 0, kehamilan 36 minggu, DJJ positif, janin tunggalviable.
Masalah adalah hal yang dialami klien dan diidentifikasi oleh bidan sesuai dengan hasil pengkajian.
Contoh masalah :
Peningkatan tekanan darah dan gangguan psikologi yaitu cemas karena kondisi ibu. Sakit kepala, kaki dan jari tangan bengkak, tidak percaya diri yang disebabkan oleh kurang pengetahuan tentang kehamilan.
Keterkaitan antara diagnosa dan masalah adalah masalah tidak dapat didefinisikan seperti diagnosa, tetapi tetap membutuhkan penanganan.



3.      Identifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial
Mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial berdasarkan diagnosa atau masalah yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan.
Bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnose potensial tidak terjadi.
Contoh diagnosa potensial yang mungkin muncul pada ibu bersalin dengan preeklamsi ringan adalah preeklamsi berat. Untuk mencegah terjadinya preeklamsi berat dilakukan pemantauan tekanan darah.
Kaji ulang apakah diagnosa dan masalah potensial yang diidentifikasi sudah tepat.

4.      Menetapkan Kebutuhan Tindakan Segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh dokter atau dikonsultasikan bersama dengan anggota tim kesehatan lain sesuai dengan kondisi klien.
Contoh kondisi yang mungkin muncul adalah kegawatan pada janin yang perlu tindakan segara dengan oksigenasi dan melakukan kolaborasi dengan dokter untuk penanganan atau pemberian terapi dan oksigenasi.
Dalam kondisi tertentu seorang wanita mungkin akan memerlukan konsultasi atau kolaborasi dengan dokter atau tim medis lain seperti ahli gizi atau ahli perawatan klinis bayi baru lahir. Dalam hal ini bidan harus mampu mengevaluasi kondisi setiap klien untuk menentukan kepada siapa konsultasi dan kolaborasi yang paling tepat dalam manajemen asuhan kebidanan.
Kaji ulang apakah tindakan segera ini benar-benar dibutuhkan.

5.      Perencanaan Asuhan
Merencanakan asuhan yang menyeluruh ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau setiap masalah yang berkaitan. Tetapi juga dari apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya, apakah dibutuhkan penyuluhan dan konseling, apakah perlu merujuk klien bila ada masalah yang berkaitan dengan sosial, ekonomi, kultural ataupun psikologis.
Contoh perencanaan asuhan berkaitan dengan diagnosa dan masalah yang ditetapkan dan disusun secara prioritas yaitu :
1)      Memberitahu tentang hasil pemeriksaan keadaan ibu dan janin
2)      Melakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi dan pemeriksaan laboratorium.
Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh kedua pihak yaitu bidan dan klien agar
dapat dilaksanakan dengan efektif. Pada langkah ini tugas bidan adalah merumuskan rencana asuhan sesuai dengan hasil pembahasan rencana asuhan bersama klien kemudian membuat kesepakatan bersama sebelum melasanakan.
Semua keputusan yang dikembangkan dalam asuhan menyeluruh harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai asumsi tentang apa  yang  akan dilakukan klien.
Kaji ulang apakah rencana asuhan sudah melputi semua aspek asuhan kesehatan terhadap wanita.

6.      Implementasi
Melaksakan asuhan langsung  dengan efisien dan aman. Perencanaan ini dapat dilakukan seluruhnya oleh bidan, sebagian lagi klien atau tim medis lainnya.
Contoh pelaksanaan berdasarkan rencana yang disusun adalah:
1)      Memberikan informasi tentang keadaan pasien.
2)      Mengadakan kolaborasi dengan dokter, bila diperlukan.
3)      Memberikan pengetahuan dan memberi motivasi terhadap tidak lanjut penaganan persalinannya.
Bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah tetap tanggungjawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh. Manajemen yang efisien menyangkut waktu, biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.
Kaji ulang apakah semua rencana asuhan telah dilaksanakan.
7.      Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan. Evaluasi dilaksanakan untuk menilai pelaksanaan asuhan kebidanan mengacu pada diagnosa nomenklatur, masalah dan kebutuhan pasien telah dapat teratasi atau belum adalah:
1)      Apakah PE (Pre Eklamsi) ringan berlanjut menjadi PE (Pre Eklamsi) berat?
2)      Apakah terjadi kegawatan pada janin?
3)      Apakah kecemasan pasien teratasi?























BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Pada dasarnya untuk melakukan manajemen kebidanan harus melalui beberapa langkah atau tahap dan langkah-langkah atau tahap-tahap tersebut dilakukan secara sistematis dengan metode pendekatan tertentu dalam membantu pemecahan masalah kesehatan ibu, anak maupun janin.
Secara umum, konsep manajemen kebidanan yang berkualitas meliputi:
1.      Manajemen dilakukan melalui pendekatan dengan mengidentifikasi kebutuhan konsumen.
2.      Meliputi seluruh kegiatan.
3.      Meliputi seluruh aspek pelayanan dan dedikasi aktif seluruh staf untuk mengidentifikasi seluruh konsumen.
4.      Memberikan pelayanan secara berkesinambungan.
5.      Memonitor kepuasan konsumen.
6.      Memahami kebutuhan dan memantau perubahan yang terjadi melalui pemantauan ulang,
7.      Meningkatkan sumber daya untuk mengembangkan kualitas tindakan dan pelayanan khusus secara tetap melalui prosedur dan system informasi yang fleksibel.







DAFTAR PUSTAKA

Estiwidani, Dwana, dkk, 2008, Konsep Kebidanan, Edisi 2, Fitramaya: Jakarta.