BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemakaian
ekstraktor vakum terus meningkat, sementara terjadi penurunan persalinan dengan
ekstraksi forseps. Ekstraksi vakum lebih disukai daripada ekstraksi forseps
karena tekniknya lebih mudah dan lebih aman baik bagi ibu maupun bayi. Depresi
neonatal pasca ekstraksi vakum berhubungan dengan derajat kesulitan tindakan.
Selama
kurun waktu empat tahun (1999–2002) terdapat 114 luaran janin jelek dari 299
persalinan ekstraksi vakum yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.
Insidensi luaran janin jelek berfluktuasi setiap tahun dan mempunyai
kecenderungan mengalami penurunan yaitu 54%, 38% dan 28% pada tahun 2000, 2001
dan 2002. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor prognostik yang berpengaruh
terhadap luaran janin adalah lama tindakan dan lepasnya mangkuk.
Alasan pemilihan alat ekstraksi vakum (alat bantu persalinan pervaginam) adalah untuk menghindari tingginya angka operasi caesar yang sudah membutuhkan biaya relative lebih besar dan resiko dari tindakan operasi terhadap ibu bila dibandingkan dengan tindakan ekstraksi vakum, selain itu komplikasi yang terjadipada partus buatan dengan ekstraksi vakum biasanya timbul akibat terlalu lama dan terlalu kuatnya tarikan kadang juga operator sering menemukan kendala dari pihak keluarga akibat sikap keluarga yang tidak siap operasi dan meminta dokter untuk mencoba tetap lahir pervaginam.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan ekstraksi vakum
dan forcep?
2. Apa
saja etiologi vakum dan forcep?
3. Apa
saja jenis-jenis forcep?
4. Apa
saja komplikasi ekstraksi vakum dan forcep?
5. Bagaimana
tekhnik ekstraksi vakum dan forcep?
6. Bagaimana
cara pemasangan forcep?
7. Apa
saja alat-alat vakum dan forcep?
1.3 Tujuan
1
Untuk mengetahui
dan mengerti tentang ekstraksi vakum dan forcep
2. Untuk
mengetahui dan memahami etiologi vakum dan forcep
3. Untuk
mengetahui jenis-jenis forcep
4. Untuk
mengetahui dan memahami komplikasi ekstraksi vakum dan forcep
5. Untuk
mengetahui tekhnik ekstraksi vakum dan forcep
6. Untuk
mengetahui cara pemasangan forcep
7. Untuk
mengetahui alat-alat vakum dan forcep
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Ektraksi Vakum
2.1.1
Definisi
Traksi
adalah menarik anak yang tidak dapat lahir spontan, yang disebabkan oleh karena
satu dan lain hal.(Rustam Mochtar,2002)
Ektraksi
vakum merupakan tindakan obstetric yang bertujuan untuk mempercepat kala
pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan sinergi pada bayi. Kemampuan
ibu untuk mengekstensikan bayinya merupakan faktor yang sangat penting dalam
menghasilkan akumulasi tenaga dorongan dengan tarikan kea rah yang sama.
Tarikan pada kulit bayi dilakukan dengan membuat cengkraman yang dihasilkan
dari aplikasi tekanan negative (vakum).(Abdul Bari saifuddin,2002)
Ektraksi
vakum ,seperti juga ektraksi forcep, merupakan suatu alat yang dipakai untuk
memegang kepala janin yang masih berada dalam jalan lahir.
2.1.2
Etiologi
Dilakukannya pertolongan persalinan dengan forcep disebabkan
karena berikut:
a. Kala
II lama dengan presentasi belakang kepala atau muka dengan dagu didepan,
b. Kelelahan pada ibu
c. Pertus tidak maju
d. Gawat janin yang ringan
e. Toksemia gravidarum
f. Rupture uteri iminen
Dan
penyebab lain dilain dilakukannya pertolongan persalinan dengan vakum yaitu Mal
presentasi (dahi, puncakkepala, muka, bokong), Penggul sempit (dispro porsi kepala-panggul)
2.1.3
Syarat Khusus
Dalam melakukan pertolongan persalinan dengan alat mempunyai syarat khusus untuk melakukan pertolongan dengan ektraksi vakum.
a. Pembukaan lengkap atau hempirb lengkap
b. Presentasi kepala
c. Cukup bulan ( tidak prematur)
d. Tidak ada kesempitan panggul
e. Anak hidup dan tidak gawat janin
f. Penurunan
H III/III+
g. Kontaksi baik dan ibu tidak gelisah
h. Ibu kooperatif dan masih mampu untuk mengedan
2.1.4
Kelebihan dan Kekurangan
A. Kelebihan
Vakum dapat digunakan sebagai pembukaan serviks uteri yang
belum lengkap. Dengan menggunakan vakum ektraktor maka pembukaan serviks dapat dipercepat secara mekanis. Sebaiknya ektraksi vakum baru dilakuakan pada pembukaan serviks uteri
sekurang-kurangnya 7cm.
B. Kekurangan
Vakum ektrasi juga mempunyai kekurangan yaitu waktu untuk melahirkan janin lebih lama dari ektrasi forcep (lebih dari 6menit). Ekstraksi vakum juga tidak dapat digunakan pada persalinan presentasi letak muka, kaput suksedeneum
yang sudah besar,
gawat janin
yang berat, kepala menyusul (after
coming head)pada letak sungsang, dan disproporsisefalo-pelvik.(Rustam
Mochtar,2012)
2.1.5
Komplikasi
Komplikasi
yang mungkin terjadi pada saat dilakukannya proses
persalinan dengan ekstrasi vakum yang mungkin terjadi pada ibu dan anak lebih kecil pada ektraksi vakum dengan ekstraksi forcep yaitu dengan catatan jika melakukan ekstraksi vakum pada primipara, sebaiknya lakukanlah episiotomy
terlebih dahulu.
Pada multipara episiotomy hanya dilakukan jika diperlukan saja.(Abdul Bari
saifuddin,2002)
Pada ibu :
a. Robekan pada serviks uteri
b. Robekan pada dinding vagina dan
perineum
Pada anak:
a. Perdarahan pada otak
b. Kaput
sukseda neumarti sifialis, yang biasanya akan hilang sendiri setelah 1-2 hari
c. Sefal
hematoma, akan hilang dalam 3-4 minggu
d. Aberasi dan laserasi kulit kepala.
2.1.6
Alat-alat ektraktor Vakum
Pada waktu sekarang ini telah ada alat vakum ekstraktorelektris yang
akan memudahkan pemakaiannya.
a. Satu botol vakum dengan manometer
b. Beberapa mangkuk (mangkuk terbuat dari besi) dengan diameter
30,40,50, dan 60 mm.
c. Selang karet
d. Rantai besi
e. Pompa tangan
f. Alat penarik khusus
2.1.7
Teknik Pemasangan
Prosedur
yang dilakuakan sebelum melakukan ekstraksi vakum sama seperti pada melakukan ekstaksi forcep, baik mengenai pesiapan-persiapan untuk pasien,penolong, maupun keperluan-keperluan untuk bayi yang akan dilahirkan.
Mangkuk
yang yang dipakai disesuaikan dengan lebarnya pembukaan serviks uteri, keadaan dinding vagina dan jauhnya turun kepala janin. Anestesi yang
dipakai dapat secara blok pudendal atau anestesi infiltrasi dengan novokain 1%-2%, atau jika kepala janin sudah berada didasar panggul anastesi tidak mutlak diperlukan.(Rustam
Mochtar,2012)
2.1.8
Langkah-langkah
Pemasangan Vakum Ekstraktor
a. Setelah bagian-bagian dari alat vakum ektraktor dipasang mangkuk dimasukkan kedalam vagina dan langsung diletakkan pada bagian terbawah kepala janin.
Dengan mempergunakan jari telunjuk dan ibu jari dari tangan kiri, labium mayor kiri dan kanan dilebarkan kekiri dan kekanan. Mangkuk dimasukkan kedalam vagina
dalamposisi miring sedikit. Setelah mangkuk diletakkan pada bagian terbawah dari kepala, dilakuakan periksa dalam untuk mengetahui :
1. Apakah mangkuk betuk letaknya
2. Apakah ada jalan lahir yang terjepit antar mangkuk dan kepala janin.
Catatan
:jangan letakkan mangkuk diatas ubun-ubun
b. Assistant
membantu memompa ekstraktor vakum sampai menjadi hampa udara 0,2 kg/cm2 ,
lalu ditunggu selama kurang lebih 2 menit. Selama menunggu ini dilakukan periksa dalam kembali untuk mengetahui apakah letak cup sudah benar dan tidak ada jalanl ahir yang terjepit antara mangkuk dan kepala. Jika ada jalan lahir yang terjepit,
maka tekanan diturunkan kembali sampai 0 kg/cm2 ,dan letak mangkuk dibenarkan. Setelah itu tekanan dinaikkan lagi sampai 0,2 kg/cm2 ,
tunggu 2 menit. Naikkan tekanan sampai 0,4 kg/cm2 ,
tunggu 2 menit. Naikkan tekanan menjadi 0,6kg/cm2 tunggu
2 menit.
c. Lakukan traksi dengan arah yang sesuai dengan arah sumbu jalan lahir. Traksi dilakukan sewaktu his dating dan pasien disuruh mengedan serta searah dengan titik tengah dari mangkuk (supaya tinggi cup tidak lepas dari kepala).(Rustam Mochtar,2012)
2.2
Ekstraksi Forcep
2.2.1
Definisi
Ekstraksi forcep adalah tindakan obstetric yang
bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan jalan menarik bagian terbawah janin (kepala) dengan alat forcep.
2.2.2
Etiologi
Dilakukannya
Pertolongan persalinan dengan ekstraksi forcep disebabkan karena Kala II lama
dengan presentasi kepala/vertex.
2.2.3
Jenis-Jenis Forcep
Jenis forcep yang sering digunakan dalam praktek antara lain yaitu:
1.
Forcep Naegele
2.
Forcep Kjelland
3.
Forcep Piper, sering digunakan untuk menarik kepala yang sulit lahir pada letak sungsang atau (after coming
head).
4.
Forcep Boerma
5.
Forcep Tarnier
6.
Forcep
Simpson
Perbedaan dan
persamaan forcep naeglee dan forsep kjelland:
|
No.
|
Forsep
Naegele
|
Forcep
Kjelland
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
|
Dapat dipasang
biparietal atau miring terhadap kepala.
a. Kunci
forcep hampir selalu menghadap UUK, kecuali jika UUK terletak di sebelah
belakang.
b. Tangkai
forcep menghadap ke tungkai atas ibu yang sesuai dengan letak UUK.
Jika kepala berada
pada:
H.IV: forcep hanya
masuk sampai pangkai sendok forcep.
H.III: sendok forcep
masuk sampai kunci forcep masuk dalam vulva.
Jika kepala berada
pada:
H.IV: tangkai forcep
membentuk sudut 30 dengan bidang hirizontal.
H.III: tangakai
forcep terletak di bidang horizontal.
H.II: tangkai forcep
30 di bawah bidang horizontal.
Sendok forcep kiri
terletak di sebelah kiri jalan lahir, sendok forcep kanan terletak di sebelah
kanan jalan lahir.
Kunci forcep tidak
dapat digeser-geser (kunci mati).
Lebih cocok untuk
forcep rendah( karena adanya lengkung panggul).
Letak sendok forcep
terhadap:
a. Kepala;
dapat miring atau bipariental
b. Panggul;
dapat miring atau melintang.
Forcep kiri harus
selalu dimasukkan lebih dahulu
Mempunyai lengkung
kepala dan lengkung panggul
|
1.
Selalu harus dipasang
biparietal terhadap kepala.
2.
a. Serupa
b tangkai sejajar dengan garis meridian.
3.
Serupa
4.
Jika kepala berada
pada:
H.IV:
tangkai forcep berada di bidang horizontal.
H.III: tangkai forcep
30 di bawah bidang horizontal.
H.II: tangkai forcep
menghadap ke lantai.
5. pada prinsipnya
serupa, tetapi sendok forcep dapat terletak
di sembarang bagian jalan lahir.
6. kunci forcep dapat
digeser-geser.
7. lebih cocok untuk
forcep tinggi.
8. letak sendok
forcep terhadap:
a. kepala: harus
selalu biparietal
b. panggul: bisa
dalam segala kedudukan.
9. yang pertama
dimasukkan boleh forcep kiri ataupun kanan.
10. hanya mempunyai
lengkung kepala, tidak mempunyai lengkung panggul.
|
2.2.4
Jenis tindakan
forcep
Berdasarkan jauhnya penurunan kepala, dapat dibedakan beberapa macam tindakan ekstraksi forsep yaitu:
1.Forcep rendah
Pada forcep rendah, kepala sudah turun sampai di hodge IV
artinya ukuran kepala yang terbesar sudah melewati pintu atas pangggul dan telah sampai kedasar panggul, dan telah terlihat dari luar.
2.Forcep tengah
Pada forcep tengah, kepala sudah turun sampai Hodge III(+)
artinya ukuran kepala terbesar telah melewati pintu atas panggul, tetapi belum sampai kedasar panggul. Syarat-syarat untuk forcep tengah belum di penuhi.
3.Forcep tinggi
Pada forcep tinggi, kepala sudah sampai Hodge I-II (
belum memasuki pintu atas panggul). Artinya ukuran terbesar kepala belum melewati pintu atas panggul, dengan perkataan lain, kepala masih dapat digerakkan. Forcep tinggi sekarang tidak dilakukan lagi karena banyak sekali komplikasi untuk ibu maupun untuk janin. Sebagai gantinya sekarang dilakukan seksio sesarea.
2.2.5
Komplikasi
Komplikasi yang mungkin
terjadi pada saat melakukan persalinan dengan ekstraksi forcep pada janin yang
mungkin terjadi yaitu cedera nervus fasial yang biasanya segera membaik,
laserasi dan fraktur yang butuh observasi, fraktur pada muka dan tulang
tengkorak membutuhkan pengawasan. Sedangkan komplikasi yang mungkin terjadi
pada ibu yaitu robekan jalan lahir(vagina, serviks), perlu reparasi, ruptura
uteri, perlu laparastomi.
2.2.6
Cara-cara Memasang Forcep
Berikut ini dijelaskan cara memastikan daun forcep pada berbagai posisi ubun-ubun kecil (UUK) dan presentasi kepala. Dapat pula
dilihat kedudukan forcep terhadap panggul dan janin.
1. Posisi
UUK didepan (dibawah simfisis)
Daun forcep dipasang melintang terhadap panggul dan melintang, terhadap kepala (biparietal)
2. Posisi
UUK kanan atau kiri depan
Daun forcep dipasang miring
terhadap panggul dan melintang terhadap kepala (biparietal)
3. Posisi
UUK kanan kiri melintang
a. Metode
LANGE: daun forcep dipasang miring
terhadap panggul dan miring terhadap kepala
b.Atau lakukan dulu koreksi manual disusul pemasangan daun forcep seperti pada 2
c. Atau langsung pasang forcep kjelland yang tidak mempunyai lengkung panggul
4. Posisi
UUK kanan atau kiri belakang
a. Lakukan koreksi manual dahulu, disusul pemasangan daun forcep seperti pada 2
b. Atau langsung pasang forcep kjelland
c. Forceps
Naegele dengan metode SCANZONI dua tahap: daun forcep
dipasang biparietal pada kepala dan miringterhadap panggul. Selanjutnya,
dilakukan traksi sampai UUK menjadi kanan atau kiri melintang, kemudian forcep
dilepaskan.
2.2.7
Teknik Ekstraksi Forcep (
Dengan Forcep Naegele):
1. Lakukan
periksa dalam lebih dahulu untuk memastikan posisi kepala (ubun-ubun kecil)
anak,besarnya pembukan serviks uteri, dan turunnya kepala.
2. Orientasi
forcep
Artinya, mengira-ngira dari luar
bagaimana letak forcep setelah dipasang. Ancang-ancang forcep tersebut
dilakukan dalam keadaan terkunci di muka vulva. Kunci forcep hampir selalu
menghadap ke arah ubun-ubun kecil.
3.
Memasang forcep
Sebelum memasang forcep, kepala harus
difiksasi dulu dari atas simfisis pubis oleh seorang asisten, supaya kepala
tidak naik lagi sewaktu sendok forsep dimasukkan.
Cara memasang forcep
Mula-mula, peganglah sendok forsep kiri
dengan tangan kiri kemudian masukkan secara perlahan-lahan dari arah inguinal
kanan pasien. Tangan kanan( biasanya 4 jari) beradadalam vagina.
2.2.8
Forcep Percobaan dan Forcep Gagal
Forcep Percobaan
Adalah suatu percobaan untuk melahirkan janin yang bertahan pada panggul tengah (midpelvic arrest) dengan menggunakan Forcep melalui vagina. Sebelum melakukan forcep percobaan (trial
forceps), terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi yang lebih tentang
1. Keadaan janin
2. Besarnya janin
3. Keadaan panggu libu
4. Keadaan umum ibu
Forcep percobaan sebaiknya dilakukan dikamar operasi karena jika seandainya gagal, dapat diselesaikan segera dengan seksio sesarae dalam waktu singkat. Tertahannya kepala janin dipanggul tengan dapat disebabkan oleh
a. Dispropor siringan antara kepala dan panggul tengah
b. Inersia
uteri sekunder
c. Kesalahan posisi atau putaran paksi yang salah dan kepala
Forcep Gagal
Forcep percobaan disebut gagal apabila
1. Forcep
yang sulit dipasang
2. Forcep tidak dapat dikunci
3. Kepala tidak maju sesudah dilakukan traksi dengan tenaga yang sedang
4. Rotasi
(putar paksi dalam) kepala tidak terjadi sewaktu traksi
Forcep percobaan yang gagal disebut failed forceps.
Forcep percobaan disebut berhasil jika dengan tarikan berkekuatan sedang, dapat terjadi rotasi kepala dan kepala makin turun.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Ektraksi vakum ,seperti juga ektraksi forcep, merupakan suatu alat yang dipakai untuk memegang kepala janin yang masih berada dalam jalan lahir. Indikasi dan Kontra Indikasi.(Rustam
Mochtar,1998). macam tindakan ekstraksi forsep yaitu: Forcep rendah,Forcep tengah,Forcep tinggi.Jenis-Jenis Forcep: Forcep Naegele,, Forcep Kjelland, Forcep Piper.
3.2 Saran
3.2.1
Bagi pendidikan
a.
Diharapkan
pendidikaan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan terutama pada ekstraksi vakum
dan forcep
b.
Diharapkan
pendidikan mampu menjadi bahan acuan untuk penulisan selanjutnya yang berkaitan
dengan masalah vakum dan forcep dalam kebidanan.
c.
Diharapkan
pendidikan mampu memperbaiki mutu pembelajaran dalam institusi pendidikan.
3.2.2
Bagi
Klien/Masyarakat
1.
Diharapkan
masyarakat mampu menangani secara dini tentang ekstraksi vakum dan forcep.
2.
Diharapkan
masyarakat mampu menghindari pencegahan yang memicu timbulnya tindakan vakum
dan forsep.
DAFTAR PUSTAKA
Mochtar,Rustam.2012. Sinopsis Obstetri,Obstetri Fisiologis,
Obstetri Patologis Edisi 3.Jakarta: EGC
Saifuddin, Abdul Bari.2009. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.Jakarta:Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo
Saifuddin, Abdul Bari.2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan
Maternal Dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo
http://etd.ugm.ac.id/indeks.php?mod=penelitiandetail&sub=penelitiandetail&act=view&type=html&buku
id 23908&obyek id=4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar