Senin, 31 Maret 2014

ASKEB KEGAWATDARURATAN MATERNAL DAN NOENATAL: EKSTRAKSI VAKUM DAN FORCEP



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pemakaian ekstraktor vakum terus meningkat, sementara terjadi penurunan persalinan dengan ekstraksi forseps. Ekstraksi vakum lebih disukai daripada ekstraksi forseps karena tekniknya lebih mudah dan lebih aman baik bagi ibu maupun bayi. Depresi neonatal pasca ekstraksi vakum berhubungan dengan derajat kesulitan tindakan.
Selama kurun waktu empat tahun (1999–2002) terdapat 114 luaran janin jelek dari 299 persalinan ekstraksi vakum yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Insidensi luaran janin jelek berfluktuasi setiap tahun dan mempunyai kecenderungan mengalami penurunan yaitu 54%, 38% dan 28% pada tahun 2000, 2001 dan 2002. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor prognostik yang berpengaruh terhadap luaran janin adalah lama tindakan dan lepasnya mangkuk.
Alasan pemilihan alat ekstraksi vakum (alat bantu persalinan pervaginam) adalah untuk menghindari tingginya angka operasi caesar yang sudah membutuhkan biaya relative lebih besar dan resiko dari tindakan operasi terhadap ibu bila dibandingkan dengan tindakan ekstraksi vakum, selain itu komplikasi yang terjadipada partus buatan dengan ekstraksi vakum biasanya timbul akibat terlalu lama dan terlalu kuatnya tarikan kadang juga operator sering  menemukan kendala dari pihak keluarga akibat sikap keluarga yang tidak siap operasi dan meminta dokter untuk mencoba tetap lahir pervaginam.



1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan ekstraksi vakum dan forcep?
2.      Apa saja etiologi vakum dan forcep?
3.      Apa saja jenis-jenis forcep?
4.      Apa saja komplikasi ekstraksi vakum dan forcep?
5.      Bagaimana tekhnik ekstraksi vakum dan forcep?
6.      Bagaimana cara pemasangan forcep?
7.      Apa saja alat-alat vakum dan forcep?

1.3  Tujuan
1        Untuk mengetahui dan mengerti tentang ekstraksi vakum dan forcep
2.      Untuk mengetahui dan memahami etiologi vakum dan forcep
3.      Untuk mengetahui jenis-jenis forcep
4.      Untuk mengetahui dan memahami komplikasi ekstraksi vakum dan forcep
5.      Untuk mengetahui tekhnik ekstraksi vakum dan forcep
6.      Untuk mengetahui cara pemasangan forcep
7.      Untuk mengetahui alat-alat vakum dan forcep










BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1         Ektraksi Vakum
2.1.1        Definisi
Traksi adalah menarik anak yang tidak dapat lahir spontan, yang disebabkan oleh karena satu dan lain hal.(Rustam Mochtar,2002)
Ektraksi vakum merupakan tindakan obstetric yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan sinergi pada bayi. Kemampuan ibu untuk mengekstensikan bayinya merupakan faktor yang sangat penting dalam menghasilkan akumulasi tenaga dorongan dengan tarikan kea rah yang sama. Tarikan pada kulit bayi dilakukan dengan membuat cengkraman yang dihasilkan dari aplikasi tekanan negative (vakum).(Abdul Bari saifuddin,2002)
Ektraksi vakum ,seperti juga ektraksi forcep, merupakan suatu alat yang dipakai untuk memegang kepala janin yang masih berada dalam jalan lahir.
2.1.2        Etiologi
Dilakukannya pertolongan persalinan dengan forcep disebabkan karena berikut:
a.    Kala II lama dengan presentasi belakang kepala atau muka dengan dagu didepan,
b.   Kelelahan pada ibu
c.    Pertus tidak maju
d.   Gawat janin yang ringan
e.    Toksemia gravidarum
f.    Rupture uteri iminen
Dan penyebab lain dilain dilakukannya pertolongan persalinan dengan vakum yaitu Mal presentasi (dahi, puncakkepala, muka, bokong), Penggul sempit (dispro porsi kepala-panggul)

2.1.3        Syarat Khusus
Dalam melakukan pertolongan persalinan dengan alat mempunyai syarat khusus untuk melakukan pertolongan dengan ektraksi vakum.
a.    Pembukaan lengkap atau hempirb lengkap
b.    Presentasi kepala
c.    Cukup bulan ( tidak prematur)
d.   Tidak ada kesempitan panggul
e.    Anak hidup dan tidak gawat janin
f.     Penurunan H III/III+
g.    Kontaksi baik dan ibu tidak gelisah
h.    Ibu kooperatif dan masih mampu untuk mengedan

2.1.4        Kelebihan dan Kekurangan
A.    Kelebihan
Vakum dapat digunakan sebagai pembukaan serviks uteri yang belum lengkap. Dengan menggunakan vakum ektraktor maka pembukaan serviks dapat dipercepat secara mekanis. Sebaiknya ektraksi vakum baru dilakuakan pada pembukaan serviks uteri sekurang-kurangnya 7cm.
B.     Kekurangan
Vakum ektrasi juga mempunyai kekurangan yaitu waktu untuk melahirkan janin lebih lama  dari ektrasi forcep (lebih dari 6menit). Ekstraksi vakum juga tidak dapat digunakan pada persalinan presentasi letak muka, kaput suksedeneum yang sudah besar, gawat janin yang berat, kepala menyusul (after coming head)pada letak sungsang, dan disproporsisefalo-pelvik.(Rustam Mochtar,2012)

2.1.5        Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada saat dilakukannya proses persalinan dengan ekstrasi vakum yang mungkin terjadi pada ibu dan anak lebih kecil pada ektraksi vakum dengan ekstraksi forcep yaitu dengan catatan jika melakukan ekstraksi vakum pada primipara, sebaiknya lakukanlah episiotomy terlebih dahulu. Pada multipara episiotomy hanya dilakukan jika diperlukan saja.(Abdul Bari saifuddin,2002)
Pada ibu :
a.    Robekan pada serviks uteri
b.    Robekan pada dinding vagina dan perineum

Pada anak:
a.    Perdarahan pada otak
b.   Kaput sukseda neumarti sifialis, yang biasanya akan hilang sendiri setelah 1-2 hari
c.    Sefal hematoma, akan hilang dalam 3-4 minggu
d.   Aberasi dan laserasi kulit kepala.







2.1.6        Alat-alat ektraktor Vakum
Pada waktu sekarang ini telah ada alat vakum ekstraktorelektris yang akan memudahkan pemakaiannya.
a.    Satu botol vakum dengan manometer
b.    Beberapa mangkuk (mangkuk terbuat dari besi) dengan diameter 30,40,50, dan 60 mm.
c.    Selang karet
d.   Rantai besi
e.    Pompa tangan
f.     Alat penarik khusus

2.1.7        Teknik Pemasangan
Prosedur yang dilakuakan sebelum melakukan ekstraksi vakum sama seperti pada melakukan ekstaksi forcep, baik mengenai pesiapan-persiapan untuk pasien,penolong, maupun keperluan-keperluan untuk bayi yang akan dilahirkan.
Mangkuk yang yang dipakai disesuaikan dengan lebarnya pembukaan serviks uteri, keadaan dinding vagina dan jauhnya turun kepala janin. Anestesi yang dipakai dapat secara blok pudendal atau anestesi infiltrasi dengan novokain 1%-2%, atau jika kepala janin sudah berada didasar panggul anastesi tidak mutlak diperlukan.(Rustam Mochtar,2012)
2.1.8        Langkah-langkah Pemasangan Vakum Ekstraktor
a.    Setelah bagian-bagian dari alat vakum ektraktor dipasang mangkuk dimasukkan kedalam vagina dan langsung diletakkan pada bagian terbawah kepala janin.
Dengan mempergunakan jari telunjuk dan ibu jari dari tangan kiri, labium mayor kiri dan kanan dilebarkan kekiri dan kekanan. Mangkuk dimasukkan kedalam vagina dalamposisi miring sedikit. Setelah mangkuk diletakkan pada bagian terbawah dari kepala, dilakuakan periksa dalam untuk mengetahui :
1.   Apakah mangkuk betuk letaknya
2.   Apakah ada jalan lahir yang terjepit antar mangkuk dan kepala janin.
Catatan :jangan letakkan mangkuk diatas ubun-ubun
b.      Assistant membantu memompa ekstraktor vakum sampai menjadi hampa udara 0,2 kg/cm2 , lalu ditunggu selama kurang lebih 2 menit. Selama menunggu ini dilakukan periksa dalam kembali untuk mengetahui apakah letak cup sudah benar dan tidak ada jalanl ahir yang terjepit antara mangkuk dan kepala. Jika ada jalan lahir yang terjepit, maka tekanan diturunkan kembali sampai 0 kg/cm2 ,dan letak mangkuk dibenarkan. Setelah itu tekanan dinaikkan lagi sampai 0,2 kg/cm2 , tunggu 2 menit. Naikkan tekanan sampai 0,4 kg/cm2 , tunggu 2 menit. Naikkan tekanan menjadi 0,6kg/cm2 tunggu 2 menit.
c.       Lakukan traksi dengan arah yang sesuai dengan arah sumbu jalan lahir. Traksi dilakukan sewaktu his dating dan pasien disuruh mengedan serta searah dengan titik tengah dari mangkuk (supaya tinggi cup tidak lepas dari kepala).(Rustam Mochtar,2012)




2.2        Ekstraksi Forcep
2.2.1        Definisi
Ekstraksi forcep adalah tindakan obstetric yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan jalan menarik bagian terbawah janin (kepala) dengan alat forcep.

2.2.2        Etiologi
Dilakukannya Pertolongan persalinan dengan ekstraksi forcep disebabkan karena Kala II lama dengan presentasi kepala/vertex.

2.2.3        Jenis-Jenis Forcep
Jenis forcep yang sering digunakan dalam praktek antara lain yaitu:
1.    Forcep Naegele
2.    Forcep Kjelland
3.    Forcep Piper, sering digunakan untuk menarik kepala yang sulit lahir pada letak sungsang atau (after coming head).
4.    Forcep Boerma
5.    Forcep Tarnier
6.    Forcep Simpson







Perbedaan dan persamaan forcep naeglee dan forsep kjelland:
No.
Forsep Naegele
Forcep Kjelland
1.

2.





3.




4.






5.



6.


7.

8.




9.

10.
Dapat dipasang biparietal atau miring terhadap kepala.
a.       Kunci forcep hampir selalu menghadap UUK, kecuali jika UUK terletak di sebelah belakang.
b.      Tangkai forcep menghadap ke tungkai atas ibu yang sesuai dengan letak UUK.
Jika kepala berada pada:
H.IV: forcep hanya masuk sampai pangkai sendok forcep.
H.III: sendok forcep masuk sampai kunci forcep masuk dalam vulva.
Jika kepala berada pada:
H.IV: tangkai forcep membentuk sudut 30 dengan bidang hirizontal.
H.III: tangakai forcep terletak di bidang horizontal.
H.II: tangkai forcep 30 di bawah bidang horizontal.
Sendok forcep kiri terletak di sebelah kiri jalan lahir, sendok forcep kanan terletak di sebelah kanan jalan lahir.

Kunci forcep tidak dapat digeser-geser (kunci mati).

Lebih cocok untuk forcep rendah( karena adanya lengkung panggul).
Letak sendok forcep terhadap:
a.       Kepala; dapat miring atau bipariental
b.      Panggul; dapat miring atau melintang.
Forcep kiri harus selalu dimasukkan lebih dahulu
Mempunyai lengkung kepala dan lengkung panggul

1.         Selalu harus dipasang biparietal terhadap kepala.
2.         a. Serupa
b tangkai sejajar dengan garis meridian.



3.         Serupa




4.         Jika kepala berada pada:
 H.IV: tangkai forcep berada di bidang horizontal.
H.III: tangkai forcep 30 di bawah bidang horizontal.
H.II: tangkai forcep menghadap ke lantai.
5. pada prinsipnya serupa, tetapi sendok forcep dapat terletak  di sembarang bagian jalan lahir.

6. kunci forcep dapat digeser-geser.

7. lebih cocok untuk forcep tinggi.
8. letak sendok forcep terhadap:
a. kepala: harus selalu biparietal
b. panggul: bisa dalam segala kedudukan.

9. yang pertama dimasukkan boleh forcep kiri ataupun kanan.
10. hanya mempunyai lengkung kepala, tidak mempunyai lengkung panggul.

2.2.4         Jenis tindakan forcep
Berdasarkan jauhnya penurunan kepala, dapat dibedakan beberapa macam tindakan ekstraksi forsep yaitu:
1.Forcep rendah
Pada forcep rendah, kepala sudah turun sampai di hodge IV artinya ukuran kepala yang terbesar sudah melewati pintu atas pangggul dan telah sampai kedasar panggul, dan telah terlihat dari luar.
2.Forcep tengah
Pada forcep tengah, kepala sudah turun sampai Hodge III(+) artinya ukuran kepala terbesar telah melewati pintu atas panggul, tetapi belum sampai kedasar panggul. Syarat-syarat untuk forcep tengah belum di penuhi.




3.Forcep tinggi
Pada forcep tinggi, kepala sudah sampai Hodge I-II ( belum memasuki pintu atas panggul). Artinya ukuran terbesar kepala belum melewati pintu atas panggul, dengan perkataan lain, kepala masih dapat digerakkan. Forcep tinggi sekarang tidak dilakukan lagi karena banyak sekali komplikasi untuk ibu maupun untuk janin. Sebagai gantinya sekarang dilakukan seksio sesarea.

2.2.5         Komplikasi
Komplikasi yang mungkin terjadi pada saat melakukan persalinan dengan ekstraksi forcep pada janin yang mungkin terjadi yaitu cedera nervus fasial yang biasanya segera membaik, laserasi dan fraktur yang butuh observasi, fraktur pada muka dan tulang tengkorak membutuhkan pengawasan. Sedangkan komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu yaitu robekan jalan lahir(vagina, serviks), perlu reparasi, ruptura uteri, perlu laparastomi.

2.2.6         Cara-cara Memasang Forcep
Berikut ini dijelaskan cara memastikan daun forcep pada berbagai posisi ubun-ubun kecil (UUK) dan presentasi kepala. Dapat pula dilihat kedudukan forcep terhadap panggul dan janin.
1.   Posisi UUK didepan (dibawah simfisis)
Daun forcep dipasang melintang terhadap panggul dan melintang, terhadap kepala (biparietal)


2.   Posisi UUK kanan atau kiri depan
Daun forcep dipasang miring terhadap panggul dan melintang terhadap kepala (biparietal)
3.   Posisi UUK kanan kiri melintang
a. Metode LANGE: daun forcep dipasang miring terhadap panggul dan miring terhadap kepala
b.Atau lakukan dulu koreksi manual disusul pemasangan daun forcep seperti pada 2
c. Atau langsung pasang forcep kjelland yang tidak mempunyai lengkung panggul
4.   Posisi UUK kanan atau kiri belakang
a.    Lakukan koreksi manual dahulu, disusul pemasangan daun forcep seperti pada 2
b.   Atau langsung pasang forcep kjelland
c.    Forceps Naegele dengan metode SCANZONI dua tahap: daun forcep dipasang biparietal pada kepala dan miringterhadap panggul. Selanjutnya, dilakukan traksi sampai UUK menjadi kanan atau kiri melintang, kemudian forcep dilepaskan.

2.2.7        Teknik Ekstraksi Forcep ( Dengan Forcep Naegele):
1.    Lakukan periksa dalam lebih dahulu untuk memastikan posisi kepala (ubun-ubun kecil) anak,besarnya pembukan serviks uteri, dan turunnya kepala.
2.    Orientasi forcep
Artinya, mengira-ngira dari luar bagaimana letak forcep setelah dipasang. Ancang-ancang forcep tersebut dilakukan dalam keadaan terkunci di muka vulva. Kunci forcep hampir selalu menghadap ke arah ubun-ubun kecil.

3.      Memasang forcep
Sebelum memasang forcep, kepala harus difiksasi dulu dari atas simfisis pubis oleh seorang asisten, supaya kepala tidak naik lagi sewaktu sendok forsep dimasukkan.
Cara memasang forcep
Mula-mula, peganglah sendok forsep kiri dengan tangan kiri kemudian masukkan secara perlahan-lahan dari arah inguinal kanan pasien. Tangan kanan( biasanya 4 jari) beradadalam vagina.

2.2.8        Forcep Percobaan dan Forcep Gagal
Forcep Percobaan
Adalah suatu percobaan untuk melahirkan janin yang bertahan pada panggul tengah (midpelvic arrest) dengan menggunakan Forcep melalui vagina. Sebelum melakukan forcep percobaan (trial forceps), terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi yang lebih tentang
1.    Keadaan janin
2.    Besarnya janin
3.    Keadaan panggu libu
4.    Keadaan umum ibu
Forcep percobaan sebaiknya dilakukan dikamar operasi karena jika seandainya gagal, dapat diselesaikan segera dengan seksio sesarae dalam waktu singkat. Tertahannya kepala janin dipanggul tengan dapat disebabkan oleh
a.    Dispropor siringan antara kepala dan panggul tengah
b.    Inersia uteri sekunder
c.    Kesalahan posisi atau putaran paksi yang salah dan kepala

Forcep Gagal
Forcep percobaan disebut gagal apabila
1.    Forcep yang sulit dipasang
2.    Forcep tidak dapat dikunci
3.    Kepala tidak maju sesudah dilakukan traksi dengan tenaga yang sedang
4.    Rotasi (putar paksi dalam) kepala tidak terjadi sewaktu traksi
Forcep percobaan yang gagal disebut failed forceps. Forcep percobaan disebut berhasil jika dengan tarikan berkekuatan sedang, dapat terjadi rotasi kepala dan kepala makin turun.


















BAB III
PENUTUP


3.1  Kesimpulan
Ektraksi vakum ,seperti juga ektraksi forcep, merupakan suatu alat yang dipakai untuk memegang kepala janin yang masih berada dalam jalan lahir. Indikasi dan Kontra Indikasi.(Rustam Mochtar,1998). macam tindakan ekstraksi forsep yaitu: Forcep rendah,Forcep tengah,Forcep tinggi.Jenis-Jenis Forcep: Forcep Naegele,, Forcep Kjelland, Forcep Piper.

3.2  Saran
3.2.1        Bagi pendidikan
a.    Diharapkan pendidikaan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan terutama pada ekstraksi vakum dan forcep
b.    Diharapkan pendidikan mampu menjadi bahan acuan untuk penulisan selanjutnya yang berkaitan dengan masalah vakum dan forcep dalam kebidanan.
c.    Diharapkan pendidikan mampu memperbaiki mutu pembelajaran dalam institusi pendidikan.





3.2.2        Bagi Klien/Masyarakat
1.    Diharapkan masyarakat mampu menangani secara dini tentang ekstraksi vakum dan forcep.
2.    Diharapkan masyarakat mampu menghindari pencegahan yang memicu timbulnya tindakan vakum dan forsep.
























DAFTAR PUSTAKA

Mochtar,Rustam.2012. Sinopsis Obstetri,Obstetri Fisiologis, Obstetri Patologis Edisi 3.Jakarta: EGC
Saifuddin, Abdul Bari.2009. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo
Saifuddin, Abdul Bari.2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.Jakarta:Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawihardjo
http://etd.ugm.ac.id/indeks.php?mod=penelitiandetail&sub=penelitiandetail&act=view&type=html&buku id 23908&obyek id=4





Tidak ada komentar:

Posting Komentar