Penyakit
ginjal adalah salah satu penyakit berbahaya bila tidak segera ditangani. Baik terhadap
orang normal ataupun orang yang sedang hamil. Penanganan penyakit ginjal
pada ibu hamil tentu tidak bisa sembarangan.Diperlukan terapi ataupun
obat2an yang aman untuk ibu hamil itu sendiri dan tentu saja janinnya.
Penyakit
ginjal pada ibu hamil adalah perihal yang menakutkan untuk beberapa calon ibu
dikarenakan diakui bahwa kelak bayi yang tengah di kandung pertumbuhannya
kurang baik. serta pasien yang menderita penyakit ginjal dianjurkan lakukan
terminasi atau penghentian kehamilan.
namun sesudah th. 1975 rasa pesismis itu beralih jadi optimis dikarenakan banyak publikasi studi masalah tentang penyakit ginjal pada ibu hamil, yang melaporkan bahwa banyak wanita dengan masalah ginjal bisa melalui kehamilan tanpa kelainan yang berarti.
namun sesudah th. 1975 rasa pesismis itu beralih jadi optimis dikarenakan banyak publikasi studi masalah tentang penyakit ginjal pada ibu hamil, yang melaporkan bahwa banyak wanita dengan masalah ginjal bisa melalui kehamilan tanpa kelainan yang berarti.
Tak hanya itu, data-data
tentang wanita hamil dengan transplantasi ginjal sejak th. 2000 sudah berikan
hasil yang menggembirakan. seluruh ini berikan pandangan bahwa beberapa besar
wanita yang memiliki masalah manfaat ginjal sekurang-kurangnya bisa hamil
dengan kemungkinan kehamilannya sukses meraih 90%.
Yang perlu dikerjakan untuk mencegahnya ?
·
Mintalah untuk memeriksa ginjal anda. bila anda ketahui bahwa anda
mempunyai problem ginjal sebelum saat anda hamil, yakinkan bahwa manfaat ginjal
anda kerap di check.
·
Periksa tekanan darah dengan teratur. tekanan darah memanglah bisa
beragam, contohnya waktu stres yang anda alami.
·
Katakan pada dokter bila anda memiliki kisah keluarga dengan
tekanan darah tinggi waktu kehamilan. situasi ini bisa mengakibatkan tekanan
ginjal, darah, serta problem sistem saraf. factor ini 4 kali semakin besar
apabila nyatanya ada kisah penyakit ginjal pada keluarga.
·
Melindungi kandungan gula darah anda dalam kendali dengan diet
serta olahraga bila anda mempunyai diabetes.
·
Bila anda melakukan transplantasi ginjal, tunggulah lebih kurang 2
th., untuk hamil kembali. ini dapat berikan anda peluang paling baik untuk
berhasil tanpa rusaknya ginjal.
Hubungi dokter segera
bila anda mempunyai gejala-gejala ginjal. hubungi dokter anda atau pergi ke
area darurat, bila anda :
·
Berhenti atau menyusutnya buang air kecil
·
merasakan kesadaran alami penurunan ( contohnya, jadi pusing )
·
sakit kepala
·
alami pembengkakan di kaki atau pergelangan kaki
·
pusing saat anda berdiri
Wanita hamil dengan
penyakit ginjal mesti di tawarkan pra-kehamilan konseling serta penilaian oleh
tim multidisiplin ( yang termasuk dokter kandungan, dokter ginjal / obstetri
serta bidan spesialis ).
• untuk wanita dengan
manfaat ginjal yang normal atau alami penurunan waktu sebelum saat hamil (
kreatinin serum dibawah 125 umol / l ), umumnya tidak timbul dampak yang
merugikan sepanjang periode panjang, namun ada peningkatan risiko komplikasi
kehamilan layaknya darah tinggi ( hipertensi serta pre- eklampsia ).
• wanita dengan masalah ginjal berat lebih barangkali untuk menderita darah tinggi ( hipertensi, pre-eklampsia ) atau persalinan kurang bln. ( prematur ), mempunyai bayi yang kecil, keguguran atau penurunan manfaat ginjal yang menetap dalam periode panjang.
• umumnya kehamilan amat jarang berlangsung pada wanita pada stadium akhir gagal ginjal dikarenakan umumnya wanita tersebut tidak subur. kesuburan kerap kembali dengan cepat sesudah transplantasi ginjal sukses.
• bila wanita dengan dialisis berlangsung kehamilan, umumnya ia memiliki efek yang amat tinggi dapat berlangsungnya keguguran, hipertensi berat, bayi kecil, serta persalinan kurang bln.. angka kelahiran hidup cuma lebih kurang 50%. apabila dilakuakn transplantasi ginjal, akhirnya tambah baik
• obat-obatan, terlebih antihipertensi, mesti ditinjau pada wanita dengan penyakit ginjal yang pingin hamil.
• pada wanita hamil dengan penyakit ginjal, tujuan tekanan darah mesti dibawah 140/90 mm ? ?hg.
• wanita dengan penyakit ginjal mesti diberikan aspirin dosis rendah sebagai profilaksis pada pre-eklampsia, dengan penyembuhan diawali dalam trimester pertama.
• wanita dengan masalah ginjal berat lebih barangkali untuk menderita darah tinggi ( hipertensi, pre-eklampsia ) atau persalinan kurang bln. ( prematur ), mempunyai bayi yang kecil, keguguran atau penurunan manfaat ginjal yang menetap dalam periode panjang.
• umumnya kehamilan amat jarang berlangsung pada wanita pada stadium akhir gagal ginjal dikarenakan umumnya wanita tersebut tidak subur. kesuburan kerap kembali dengan cepat sesudah transplantasi ginjal sukses.
• bila wanita dengan dialisis berlangsung kehamilan, umumnya ia memiliki efek yang amat tinggi dapat berlangsungnya keguguran, hipertensi berat, bayi kecil, serta persalinan kurang bln.. angka kelahiran hidup cuma lebih kurang 50%. apabila dilakuakn transplantasi ginjal, akhirnya tambah baik
• obat-obatan, terlebih antihipertensi, mesti ditinjau pada wanita dengan penyakit ginjal yang pingin hamil.
• pada wanita hamil dengan penyakit ginjal, tujuan tekanan darah mesti dibawah 140/90 mm ? ?hg.
• wanita dengan penyakit ginjal mesti diberikan aspirin dosis rendah sebagai profilaksis pada pre-eklampsia, dengan penyembuhan diawali dalam trimester pertama.
Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan
fungsional dan anatomik ginjal dan saluran kemih, yang sering menimbulkan
gejala-gejala dan kelainan fisik dan pemeriksaan hasil laboraturium. Apabila
hal itu tidak diperhatikan dan diperhitungkan, ada kemungkinan salah membuat
diagnosis, sehingga dapat merugikan ibu dan janin. Perubahan anatomik terdapat
peningkatan pembuluh darah, dan ruangan intertisiil pada ginjal. Dan juga
ginjal akan memanjang kira-kira 1 cm. Semuanya itu akan kembali normal setelah
melahirkan. Ureter, pielum dan kaliks mengalami pelebaran dalam kurun waktu
yang pendek sesudah kehamilan 3 bulan, dan terutama pada sisi sebelah kanan.
Pelebaran yang tidak sama ini mungkin karena perubahan uterus yang membesar dan
mengalami dekstrorotasi atau karena terjadinya penekanan pada vena ovarium
kanan yang terletak di atas ureter, sedangkan pada yang di sebelah kiri tidak
terdapat karena adanya sigmoid sebagai bantalan. Pelebaran juga karena pengaruh
progesterone, sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis fisiologis dalam
kehamilan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk, dan kadang berpindah
letak ke lateral, dan akan kembali normal 8-12 minggu setelah melahirkan. Semua
hal di atas dapat dilihat dengan pemeriksaan pielografi intravena
(IVP=intravenosus pylography).
Selain itu juga terjadi hyperplasia
dan hipertrofi otot dinding ureter dan kaliks, dan berkurangnya tonus otot-otot
saluran kemih karena pengaruh kehamilan. Dilatasi ureter ini memunginkan
timbulnya refluks air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter. Akibat
pembesaran uterus, hiperemi organ-organ pelvis dan pengaruh hormonal, terjadi
perubahan pada kandung kemih yang dimulai pada kehamilan usia 4 bulan. Kandung
kemih akan berpindah ke lebih anterior dan superior. Pembuluh-pembuluh di
daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Otot kandung kemih mengalami
hipertrofi akibat pengaruh hormone esterogen. Kapasitas kandung kemih meningkat
sampai 1 Liter, kemungkinan karena efek relaksasi dari hormone progesterone.
Perubahan fungsi
Segera sesudah konsepsi, terjadi
peningkatan aliran plasma (RPF) dan tingkat filtrasi glomerolus (GFR). Sejak
kehamilan trimester 2 GFR akan meningkat sampai 30-50%, di atas nilai normal
wanita tidak hamil. Akibatnya akan terjadi penurunan dari kadar kreatinin serum
dan urea nitrogen darah. Nilai normal kreatinin serum adalah 0,5 mg-0,7 mg/100
ml dan urea nitrogen darah 8-12 minggu/100ml.
Infeksi saluran kemih
Infeksi saluran kemih adalah bila
pada pemeriksaan urin, ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per
ml. urin yang diperiksa harus bersih, segar, dan dari aliran tengah (midstream)
atau duambil dengan pungsi suprasimpisis. Ditemukan bakteri yang jumlahnya
lebih dari 103 per ml ini disebut dengan istilah bakteriuria. Bakteriuria
ini mungkin tidak disertai gejala, disebut bakteriuria asimtomatik, dan mungkin
pula disertai dengan gejala-gejala disebut bakteriuria simptomatik. Walaupun
infeksi ini dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh darahatau
saluran limfe, akan tetapi yang terbanyak atau tersering adalah kuman-kuman
naik ke atas melalui uretra, ke dalam kandung kemih dan saluran kemih yang
lebih atas. Kuman yang tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah Escheria
coli (E.coli), di samping kemungkinan kumn-kuman lain seperti Enterbacter
aerogenes, Klebsiella, Psedomonas dan lain-lain.
- Bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik)
Frekuensi bacterium tanpa gejala
kira-kira 2-10 %, dan dipengaruhi oleh parietas, sosioekonomi wanita hamil
tersebut. Di Amrika Serikat paling tiggi ditemukan pada wanita Negro. Di RS
Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta, frekuensi bakteriuria tanpa gejaala dalam
kehamilan sangat tinggi, yaitu 25%.
Beberapa peneliti mendapatkan adanya
hubungan kejaian bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia dalam
kehamilan persalinan premature, gangguan pertumbuhan janin, dan preeklamsia.
Oleh karena itu pada wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan
seksama sampai air kemih bebas dari bakteri yan dibuktikan dengan pemeriksaan
beberapa kali. Pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian obat sulfonamide
ampisilin, atau nitrofurantoin.
2.
Bakteriuria dengan gejala (simptomatik)
SISTISIS
Sistitis adalah peradangan kandung
kemih tanpa disertai radang bagian atas saluran kemih. Sistitis ini cukup
dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Kuman penyebab utama adalah E.coli, di
samping dapat pula oleh kuman-kuman lain. Factor predisposisi lain adalah
uretra wanita yang pendek, sistokel, adanya sisa air kemih yang tertinggal, di
samping penggunaan kateter yang sering dipakai dalam usaha mengeluarkan air
kemih dalam pemeriksaan ginekologik atau persalinan. Penggunaan kateter ini
akan mendorong kuman-kuman yang ada di uretra distal untuk masuk ke dalam
kandung kemih. Dianjurkan untuk tidak menggunakan kateter bila tidak perlu
betul.
Gejala-gejala sistitis khas sekali,
yaitu disuria terutama pada akhir berkemih, meningkatnya frekuensi bekemih dan
kadang-kadang disertai nyeri di bagian atas simpisis, perasaan ingin berkemih
yang tidak dapat ditahan,air kemih kadang-kadang terasa panas, suhu badan
mungkin normal atau meningkat, dan nyeri di daerah suprasimpisis. Pada
pemeriksaan laboratorium, biasanya ditemukan banyak leukosit dan eritrosit dan
kadang-kadang juga ada bakteri. Kadang-kadang dijumpai hematuria sedangkan
proteinuria biasanya tidk ada.
Sistititis dapat diobati dengan sulfonamide,
ampicilin, eritromisin. Perlu diperhatikan obat-obat lain yang baik digunakan
untuk pengobatan infeksi saluran kemih, akan tetapi mempunyai pengaruh tidak
bagi janin, ataupun bagi ibu.
PIELONEFRITIS AKUTA
Merupakan salah satu komplikasi yang
sering dijumpai dalam kehamilan, dan frekuensinya kira-kira 2%, terutama pada kehamilan
terakhir, dan permulaan masa nifas.
Penyakit ini biasanya disebabkan
oleh Escheria coli, dan dapat pula oleh kuman-kuman lain seperti Stafilokokus
aereus, Basillus proteus, dan pseudomonas aeruginosa. Kuman dapat menyebar
secara hematogen atau limfogen, akan tetapi terbanyak berasal dari kandung
kemih. Predisposisinya antara lain yaitu penggunaan kateter untuk mengeluarkan
air kemih waktu persalinan atau kehamilan, air kemih yang tertahan sebab
perasaan sakit waktu berkemih karena trauma persalinan, atau luka pada jalan
lahir. Diajurkan tidak menggunakan kateter untuk mengeluarkan air kemih, bila
tidak diperlukan betul. Penderita yang menderita pielonefritis kronik atau
glomeroluneftitis kronik yang sudah ada sebelum kehamilan, sangat mendorong terjadinya
pielonefritis akuta ini.
Gejala-gejala penyakit biasanya
timbul mendadak, wanita yang sebelumnya merasa sakit sedikit pada kandung
kemih, tiba-tiba menggigil, badan panas, dan rasa nyeri di punggung (angulus
kostovertebralis) terutama sebelah kanan. Nafsu makan berkurang, mual,
muntah-muntah, dan kadang diare, dan dapat pula jumlah urin sangat berkurang
(oligouria). Pada pemeriksaan air kemih ditemukan banyak sel leukosit dan
sering bergumpal-gumpal, silinder sel darah, dan kadang-kadang ditemukan bakteri
E.coli. pembiakan air kemih menunjukkan hasil positif. Perlu diperhatikan
diagnosis banding lain seperti appendicitis akuta, solusio plasenta, tumor
putaran tungkai, dan infeksi nifas.
Pengobatan pielonefritis akuta, penderita harus
dirawat, istirahat berbaring, dan diberikan cukup cairan dan antibioitika
seperti ampicilin atau sulfonamide, sampai tes kepekaan kuman ada, kemudian tes
antibiotic disesuaikan dengan hasil tes kepekaan tersebut. Biasanya pengobatan
berhasil baik, walaupun kadang-kadang penyakit ini dapat timbul lagi.
Pengobatan sedikitnya dilanjutkan selama 10 hari, dan kemudian penderita harus
tetap diawasi akan kemungkinan berulangnya penyakit. Perlu diingat ada
obat-obat yang tidak boleh diberikan pada kehamilan walaupun mungkin baik untuk
pengobatan infeksi saluran kemih seperti tetrsiklin. Terminasi kehamilan segera
biasanya tidak diperlukan, kecuali apabila pengobatan tidak berhasil atau
fungsi ginjal makin memburuk. Prognosis bagi ibu umumnya cukup baik bila
pengobatan cepat dan tepat diberikan, sedangkan pada hasil konsepsi seringkali
menimbulkan keguguran atau persalinan premature.
PIELONEFRITIS KRONIKA
Pielonefritis kronik biasanya tidak
atau sedikit sekali menunjukkkan gejala-gejala penyakit saluran kemih, dan
merupakan predisposisi terjadinya pielonefritis akuta dalam kehamilan.
Penderita mungkin menderita tekanan darah tinggi. Pada keadaan penyakit yang
lebih berat didapatkan penurunan tingkat filtrasi glomerolus (GFR) dan pada
urinalisis urin mungkin normal, mungkin ditemukan protein kurang dari 2 gr per
hari, gumpalan sel-sel darah putih.
Prognosis bagi ibu dan janin
tergantung dari luasnya kerusakan jaringan ginjal. Penderita yang hipertensi
dan insufisiensi ginjal mempunyai prognosis buruk. Penderita ini sebaiknya
tidak hamil, karena risiko tinggi. Pengobatan penderita yang menderit
pielonefritis kronika ini tidak banyak yang dapat dilakukan, dan kalau menunjuk
ke arah pielonefritis akuta, terapi sperti yang telah diuraikan. Perlu
dipertimbangkan untuk terminasi kehamilan pada penderita yang menderita
pielonefritis kronika.
GLOMERULONEFRITIS AKUTA
Glomerulonefritis akuta jarang
dijumpai pada wanita hamil. Peyakit ini dapat timbul setiap saat dalam
kehamilan, dan penderita nefritis dapat menjadi hamil. Yang menjadi penyebab
biasanya Streptococcus beta-haemolyticus jenis A. sering ditemukan bahwa
penderita pada saat yang sama atau beberapa minggu sebelumnya menderita infeksi
jalan pernapasan, seperti tonsillitis, atau infeksi lain-lain oleh
streptokokus, suatu hal yang menyokong teori infeksi local.
Gambaran klinik ditandai oleh
timbulnya hematuria dengan tiba-tiba, edema dan hipertensi pada penderita
sebelumnya tampak sehat. Kemudian sindroma ditambah dengan oligouria sampai
anuria, nyeri kepala, dan mundurnya visus (retinitis albuminika). Diagnosis
menjadi sulit apabila timbul serangan kejang-kejang dengan atau tanpa koma yang
disebabkan oleh komplikasi hipertensi serebral, atau oleh uremia, atau apabila
timbul edema paru-paru akut. Apabila penyakitnya diketahui dalam trimester III,
maka perbedann dengan preeklamsia dan eklampsia selalu harus dibuat.
Pemeriksaan air kencing menghasilkan sebagai berikut: sering proteinuria,
ditemukan eritrosit dan silinder hialin, silinder korel, dan silinder
eritrosit.
Pengobatan sama di luar kehamilan
dengan perhatian khusus, istirahat baring, diet yang sempurna dan rendah garam,
pengendalian hipertensi serta keseimbangan cairan dan elektrolit. Untuk
pemberantasan infeksi cukup diberi penicillin, karena streptococcus peka
terhadap penicillin. Apabila ini tidak berhasil, maka harus dipakai antibiotika
yang sesuai dengan hasil tes kepekaan.
Biasanya penderita sembuh tanpa
sisa-sisa penyakit dan fungsi ginjal yang tetap baik. Kehamilan dapat
berlangsung sampai lahirnya anak hidup, dan apabila diinginkan wanita boleh
hamil lagi di kemudian hari. Ada kalanya penyakit menjadi menahun dengan segala
akibatnya. Ada umumnya prognosis ibu cukup baik. Kematian ibu sangat jarang,
dan apabila terjadi biasanya itu diakibatkan oleh dekompensasi kordis,
komplikasi serebro-vaskuler anuria, dan uremia.
Kehamilan tidak banyak mempengaruhi jalan penyakit.
Sebaliknya glomerulonefritis akuta mempunyai pengaruh tidak baik terhadap hasi
konsepsi; terutama yang disertai tekanan darah yang sangat tingggi dan
insufisiensi ginjal, dapat menyebabkan abortus, partus prematurus dan kematian
janin.
GLOMERULONEFRITIS KRONIKA
Wanita hamil dengan
glomerulonefritis kronika sudah menderita penyakit itu beberapa tahun
sebelumnya. Karena itu, pada pemeriksaan kehamilan pertama dapat dijumpai
proteinuria, sedimen yang tidak normal, dan hipertensi. Diagnosis mudah
dibuat bila dijumpai proteinuria, sedimen yang tidak normal, dan
hipertensi. Apabila gejala-gejala penyakit penyakit baru timbul dalam kehamilan
yang sudah lanjut, atau ditambah dengan pengaruh kehamilan (superimposed
preeclampsia), maka lebih sulit untuk membedakannya dari preeklampsi
murni.
Suatu ciri tetap ialah makin
memburuknya fungsi ginjal karena makin lama makin banyak kerusakan yang
diderita oleh glomerulus-glomerulus ginjal, bahkan sampai mencapai tingkat
akhir, yakni apa yang disebut ginjal kisut. Penyakit ini dapat menampakkan diri
dalam 4 macam: (01) hanya terdapat proteinuria menetap dengan atau tanpa
kelainan sedimen; (02) dapat menjadi jelas sebagai sindroma nefrotik; (03)
dalam bentuk mendadak seperti pada glomerulonefritis akuta; (04) gagal ginjal
sebagai penjelmaaan pertama. Keempat-empatnya dapat menimbulkan gejala-gejala
insufisiensi ginjal dan penyakit kardiovaskuler hipertensif.
Selain proteinuria, kelainan sedimen
dan hipertensi, dapat pula dijumpai edema (terutama di muka), dan anemia.
Pemeriksaan kimiawi darah menunjukkan urea-nitrogen, kadar asidum urikum, dan
kadar kreatinin yang tinggi. Pengeluaran fenosufonftalein dan kreatinin oleh
ginjal lebih lambat.
Pengobatan tidak memberi hasil yang memuaskan karena
penyakitnya bertambah berat. Peningkatan penyakit, tensi yang sangat tinggi,
dan tambahan dengan pielonefritis akuta harus ditanggulangi dengan seksama.
Dalam hal-hal terakhir pengakhiran kehamilan perlu dipertimbangkan. Sebaiknya
penderita glomerulonefritis kronika tidak menjadi hamil. Karena kerusakan
ginjal berbeda-beda pada waktu penderita ditemukan hamil, maka sulit
untuk menafsirkan pengaruh kehamilan pada jalan penyakit. Yang tanpa kehamilan
juga makin lama makin menjadi lebih buruk. Agaknya kehamilan tidak mempercepat
proses kerusakan ginjal, walaupun sebaliknya dapat pula terjadi.
Prognosis bagi ibu akhirnya buruk:
ada yang segera meninggal, ada yang agak lama. Hal itu tergantung dari luasnya
kerusakan ginjal waktu diagnosis dibuat, dan ada atau tidaknya faktor-faktor
yang mempercepat proses penyakit.
Prognosis bagi janin dalam kasus
tertentu tergantung pada fungsi ginjal dan derajat hipertensi. Wanita dengan
fungsi ginjal yang cukup baik tanpa hipertensi yang berarti dapat melanjutkan
kehamilan sampai cukup bulan walaupun biasanya bayinya lahir dismatur akibat
insufisiensi placenta. Apabila penyakit sudah berat, apalagi disertai tekanan
darah yang sangat tinggi, biasanya kehamilan berakhir dengan abortus dan partus
prematurus, atau janin mati dalam kandungan.
SINDROMA NEFROTIK
Sindroma nefrotik, yang dahulu
dikenal dengan nama nefrosis, ialah suatu kumpulan gejala yang terdiri atas
edema, proteinuria (lebih dari 5 gram sehari), hipoalbuminemia, dan
hiperkolesterolemia. Mungkin sindroma ini diakibatkan oleh reaksi
antigen-antibodi dalam pembuluh-pembuluh kapiler glomerulus. Penyakit-penyakit
yang dapat menyertai sindroma nefrotik adalah glomerulonefritis kronika (paling
sering), lupus eritemosus, DM, amiloidosis, sifilis, dan thrombosis vena
renalis. Selain itu sindroma ini dapat pula timbul akibat keracunan logam berat
(timah, air raksa), obat-obatan antikejang, serta racun serangga.
Apabila kehamilan disertai sindroma
nefrotik, maka pengobatan serta prognosis ibu dan anak tergantung pada faktor
penyebabnya dan pada beratnya insufisiensi ginjal.
Sedapat mungkin faktor penyebabnya
harus dicari; jikalau perlu, dengan biopsy ginjal. Penderita harus diobati
dengan seksama, atau pemakaian obat-obat yang menjadi sebab harus dihentikan.
Penderita diberi diet tinggi protein. Infeksi sedapat-dapatnya dicegah dan yang
sudah ada harus diberantas dengan antibiotika. Tromboembolismus dapat timbul
dalam nifas. Siberman dan Adam mengajarkan pengobatan antibeku (heparin) dalam
nifas pada wanita dengan sindroma nefrotik. Dapat pula diberi obat-obat
kortikosteroid dalam dosis tinggi.
GAGAL GINJAL MENDADAK DALAM KEHAMILAN
Gagal ginjal mendadak (acute renal
failure) merupakan komplikasi yang sangat gawat dalam kehamilan dan nifas,
karena dapat menimbulkan kematian atau kerusakan fungsi ginjalyang tidak bisa
sembuh lagi. Kejadiannya 1 dalam 1300-1500 kehamilan.
Kelainan ini didasari oleh 2 jenis patologi.
- Nekrosis tubular akut, apabila sumsum ginjal mengalami kerusakan.
- Nekrosis kortikal bilateral apabila sampai kedua ginjal yang menderita.
Penderita yang mengalami gagal
ginjal mendadak ini sering dijumpai pada kehamilan muda 12-18 minggu, dan
kehamilan telah cukup bulan. Pada kehamilan muda, sering diakibatkan oleh abortus
septic yang diakibatkan oleh bakteri Chlostridia welchii atau streptococcus.
Gambaran klinik lain yaitu berupa sepsis, dan adanya tanda-tanda oligouria
mendadak dan azothemia serta pembekuan darah intravaskuler (DIC), sehingga
terjadi nekrosis tubular yg akut. Kerusakan ini dapat sembuh kembali bila
kerusakan tubulus tidak terlalu luas dalam waktu 10-14 hari. Seringkali
dilakukan tindakan tindakan histerektomi untuk menagatasinya, akan tetapi ada
peneliti yang menganjurkan tidak perlu melakukan operasi histerektomi tersebut
asalkan penderita diberikan antibiotic yang adekuat dan intensif serta
dilakukan dialysis terus menerus sampai fungsi ginjal baik. Lain halnya dengan
nekrosis kortikal yang bilateral, biasanya dihubungkan dengan solusio plasenta,
preeclampsia berat atau eklampsia, kematian janin dalam kandungan yang lama,
emboli air ketuban yang mnyebabkan terjadinya DIC, reaksi transfuse darah
atau pada perdarahan banyak yang dapat menimbulkan iskemi.
Penderita dapat meninggal dalam
waktu 7-14 hari setelah timbulnya anuria. Kerusakan jaringan dapat terjadi di
beberapa tempat yang tersebar atau ke seluruh jaringan ginjal.
Pada masa nifas sulit diketahui
sebabnya, sehingga disebut sindrom ginjal idiopatik postpartum.
Penanggulangan pada keadaan ini, penderita diberi infuse, atau transfusi darah,
diperhatikan keseimbangan elektrolit dan cairan dan segera dilakukan
hemodialisis bila ada tanda-tanda uremia. Banyak penderita membutuhkan
hemodialis secara teratur atau dilakukan transplantasiginjal untuk ginjal yang
tetap gagal. Gagal ginjal dalam kehamilan ini dapat dicegah bila dilakukan:
- Penangan kehamilan dan persalinan dengan baik:
- Perdarahan, syok, dan infeksi segera diatasi atau diobati dengan baik;
- Pemberian trannfusi darah dengan hati-hati.
BATU GINJAL (NEFROLITIASIS) DAN SALURAN KEMIH
(UROLITIASIS)
Batu saluran kemih dalam kehamilan
tidaklah biasa. Frekuensinya sangat sedikit 0.03-0,07%. Walaupun demikian perlu
juga diperhatikan karena urotiasis ini dapat mendorong timbulnya infeksi
saluran kemih, atau menimbulkan keluhan pada penderita berupa nyeri mendadak,
kadang-kadang berupa kolik, dan hematuria. Perlu anamnesis tentang riwayat
penyakit sebelumnya, terutama mengenai penyakit saluran kencing, untuk membantu
membuat diagnosis urolitiasis. Diagnosis lebih tepat dengan melakukan
pemeriksaan intravenous pielografi; akan tetapi janin harus dilindungi dari
efek penyinaran. Dewasa ini dapat pula dengan USG dan MRI.
Bila diketahui adanya urolitiasis
dalam kehamilan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan sakitnya,
diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah, karena hampir 80% batu
akan dapat turun ke bawah, serta antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan
tindakan operasi, sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester pertama atatu
setelah post partum. Pada batu buli-buli, bila batu tersebut diperkirakan
menghalangi jalannya persalinan, kehamilan diakhiri dengan SC, dan batu
diangkat post partum dengan seksio alta atau lipotripsi.
GINJAL POLIKISTIK
Ginjal polikistik merupakan kelainan
bawaan (herediter). Kehamilan umunya tidak mempengaruhi perkembangan
pembentukan kista pada ginjal, begitu pula sebaliknya. Akan tetapi bila fungsi
ginjal kurang baik, maka kehamilan akan memperberat atau merusak fungsinya.
Sebaliknya wanita yang telah mempunyai kelainan sebaiknya tidak hamil karena
kemungkinan timbul komplikasi akibat kehamilan selalu tingggi.
TUBERKULOSIS GINJAL
Jarang dijumpai wanita hamil dengan
tuberculosis ginjal, walaupun dalam literature disebutkan ada. Kehamilan akan
mempengaruhi TBC ginjal tersebut, bila tidak diobati. TBC pada ginjal dapat
hamil terus, asal fungsi ginjalnya baik.
Diagnosis TBC ginjal ditentukan bila
ditemukan tuberkel kuman MIkrobakterium tuberculosis pada ginjal, tetapi hal
ini sulit dilakukan karena diperlukan tindakan invasive. Tes Tuberkulin tidak
dapat dijadikan patokan karena kehamilan mengurangi sensitivitas tuberculin.
Diagnosis dapat ditegakkan bila ditemukan leukosit, eritrosit, dan tuberculosis
dalam urin.
Penanganan TBC ginjal dalam
kehamilan:
- Konservatif, dengan mengobati gejala yang timbul sampai akhir kehamilan.
- Paliatif, dengan melakukan terminasi kehamilan bertujuan untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan oleh proses tuberculosis.
- Radikal, yang terdiri atas nefroktomi atau kombinasi aborsi dan nefrektomi. Nefrektomi merupakan pilihan apabila tuberculosis hanya terjadi pada 1 ginjal. Tindakan ini diperlukan pada 69% kasus tuberculosis ginjal dengan eksaserbasi akut pada kehamilan. Aborsi tidak menghentikan proses tuberculosis.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah
abortus dan janin yang terinfeksi. Mortalitas ibu dan bayi apabila tidak
diobati berkisar 30-40%. Terapi TBC ginjal sama dengan terapi TBC organ-organ
lain. Untuk membuat diagnosis TBC ginjal diperlukan pemeriksaan laboraturium khusus
KEHAMILAN PASCA NEFREKTOMI
Pada penderita yang mempunyai
1 ginjal karena kelainan congenital atau pasca nefrektomi, dapat atau boleh
hamil sampai aterm asalkan fungsi ginjalnya normal. Perlu pemeriksaan fungsi
ginjal sebelum hamil dan selama kehamilan serta diawasi dengan baik karena
kemungkinan timbulnya infeksi saluran kemih. Persalinan dapat berlangsung
pervaginam kecuali dalam keadaan-keadaan tertentu.
KEHAMILAN PASCA TRANSPLANTASI GINJAL
Akhir-akhir ini terdapat laporan
tentang kehamilan sampai cukup bulan, setelah wanita mengalami transplantasi
ginjal. Prognosisnya cukup baik, bila ginjal yang diimplantasikan tersebut
berasal dari donor yang hidup. Selama kehamilan mungkin timbul kompikasi pada
ibu dan janinnya.
Kira-kira 50% kehamilan akan berakhir
dengan kelahiran premature, dan mungkin pula timbul komplikasi hipertensi,
proteinuria, atau infeksi saluran kemih. Pada ginjal sendiri mungkin dapat
timbul kerusakan yang sifatnya dapat pulih kembali normal.
Bila ginjal yang ditransplantasikan
tersebut berasal dari ginjal donor yang telah meninggal (cadaver), maka
kemungkinan akan terjadi kerusakan atau fungsi ginjal akan memburuk setelah 1
tahun, sehingga pada waniat tersebut harus dilakukan dialysis terus menerus
untuk mempertahankan kehidupannya. Wanita yang menginginkan hamil hamil setelah
dapat tranplantasi giinjal, haruslah diawasi ketat oleh spesialis obstetric dan
spesialis penyakit ginjal.
Sebaiknya tentu wanita ini tidak
hamil lagi. Davidson dkk mengajukan 8 kriteria yang harus dipenuhi oleh seorang
wanita yang telah mendapatkan transplantasi ginjal, untuk diperbolehkan hamil.
- Kesehatan penderita dalam keadaan baik dalam waktu 1-2 tahun setelah mendapatkan transplantasi ginjal
- Tidak ada kontraindikasi obstetric untuk ibu hamil.
- Tidak ada proteinuria
- Tidak ada tanda-tanda penolakan graft
- Fungsi ginjal harus baik, dengan hasil pemeriksaan laboraturium didapat kadar kreatinin darah antara 0,8 -2 mg/ml
- Tidak ada tanda-tanda bendungan, yang dibuktikan dengan pemeriksaan urogram
- Tidak ada tanda-tanda hipertensi
- Mendapat terapi
- Prednisone 10-15 mg/hari
- Aothioprin 2-3 mg/kg bb/ hari
Perlu diperhatikan kriteria Davidson
tersebut, agar wanita yang mempunyai transplantasi ginjal dapt ditolong,
sehingga kehamilan tidak membuat penderita atau janin mengalami komplikasi yang
tidak diharapkan sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar